KAJIAN SOSIOPSIKOLOGIS
PADA CYBER SHORT STORY ANGKATAN 2000
Arif Irfan Fauzi
ABSTRAK
Kajian sosiopsikologis dapat diterapkan untuk mengkaji karya sastra. Dalam karya tulis ini objek yang dikaji adalah cerita pendek angkatan 2000 yang terdapat dalam situs internet (cyber short story). Adapun cerpen yang dijadikan sampel adalah Daging karya Sri Lestari dan Sang Buron karya Adhyra.
Sosiopsikologis adalah sebuah ilmu interdisipliner yang terdiri dari ilmu sosiologi dan psikologi. Kajian psikologi sosial mengarah pada dua ranah: (1) tinjauan secara mikro, dan (2) tinjauan secara makro. Tinjauan mikro meliputi (a) persepsi, (b) apersepsi, (c) motif niat, (d) motivasi, dan (e) sikap/attitude. Adapun tinjauan secara makro terdiri atas (a) interaksi sosial, (b) konflik, (c) cinta, (d) perasaan, dan (e) agresi. Masing-masing bidang memiliki penjabaran yang sangat luas, namun penulis membatasi pada interaksi sosial dan agresi sebagai perilaku sosial yang akan dikaji dengan sudut pandang psikologi.
Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau suatu fenomena. Penulis ingin mendeskripsikan antara penggambaran tokoh oleh pengarang laki-laki dan perempuan ditinjau dari sudut pandang sosiopsikologis. Data dalam karya tulis ini berupa dialog, narasi, deskripsi, dan eksplanasi dari tokoh lain yang terdapat dalam kedua cerpen.
Kata kunci: sosiopsikologis, cyber short story, interaksi sosial, dan agresi.
PENDAHULUAN
Salah satu unsur yang terkandung dalam sebuah karya sastra adalah unsur kehidupan sosial-budaya serta ragam sikap pengarang terhadapnya (Aminuddin, 2004:186). Setiap pengarang memiliki pandangan berbeda terhadap realita sosial yang terdapat di sekelilingnya. Pengarang pun memiliki kekhasan dalam menyajikan sebuah fenomena kepada pembaca. Kekhasan ini tidak bisa diintervensi oleh siapapun dan dengan alasan apapun. Hak mencipta bagi pengarang bersifat tak terbatasi, sehingga ia bisa menggambarkan apapun dalam bentuk yang bagaimanapun.
Terlepas dari polemik tentang keberadaan angkatan 2000, pengarang-pengarang angkatan ini terkenal sebagai revolusioner dalam bidang sastra. Dikatakan demikian dikarenakan perbedaan ciri yang sangat menonjol dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Angkatan ini terkenal memiliki sastrawan yang (1) bergaya bahasa fulgar --baik pengarang laki-laki maupun perempuan,-- (2) tema lebih umum dan pembahasan dalam karya lebih tajam, serta (3) kebebasan berekspresi dalam mencipta karya. Salah satu pembeda dengan angkatan-angkatan sebelumnya adalah setiap pengarang memilki kekhasan serta daya tarik tersendiri dalam setiap karya yang dihasilkan.
Sastra bukanlah sesuatu yang otonom melainkan terikat dengan situasi dan kondisi tempat karya itu dilahirkan (Ibrahim dalam Jabrohim, 2001: 167). Hal ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya sastra adalah institusi sosial yang merupakan refleksi dari kehidupan yang ada di masyarakat.
Berdasarkan media yang digunakan, cerita pendek dapat disampaikan dengan dua media (1) konfensional –naskah, dan (2) nonkonfensional (cyber/ virtual short story). Cara konfensional dibagi menjadi dua (1) satu naskah berisi satu cerpen, dan (2) satu naskah berisi kumpulan cerpen. Sedangkan pada cara nonkonvensional, kelaziman yang sering ditemukan adalah kumpulan cerpen dalam satu situs.
Anggoro (2004: 33-34) mengungkapkan bahwa keberadaan cyber sastra tidak bisa lagi ditolak dalam kancah kesusastraan modern walaupun masih banyak kalangan yang memperdebatkannya. Diakui atau tidak, masyarakat telah mengakui bahwa secara faktual telah muncul media alternatif yang dianggap baru untuk menyalurkan karya sastra.
Ketajaman angkatan 2000 tidak hanya tampak pada novel, puisi, dan drama. Cerita pendek sebagai salah satu cabang dari novel juga memiliki ciri yang serupa. Selain cerita yang dipublikasikan dalam bentuk naskah atau kumpulan naskah, cerita pendek dalam dunia maya (cyber short story) juga memiliki penanda yang sama dengan genre sastra lain.
Sosiopsikologis sebagai Alat Kajian
Aminuddin (2004: 186) berpendapat bahwa puisi dan prosa fiksi bisa dikaji dengan menggunakan ilmu sosiopsikologi. Pengertian sosiopsikologis adalah sebuah ilmu interdisipliner yang terdiri dari ilmu sosiologis dan psikologis. Ilmu interdisipliner ini merupakan gabungan dari ilmu sosiologi dan psikologis. Ilmu sosiologi digunakan sebagai alat mengkaji bidang-bidang sosial budaya yang terdapat dalam karya sastra. Adapun gejala psikis dapat dianalisis dengan ilmu psikologi.
Sosiologi sastra adalah cabang penelitian yang reflektif (Endraswara, 2003: 77-81). Sastra akan dipandang sebagai cermin dari kehidupan yang ada di masyarakat. Asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa kehidupan sosial akan melahirkan berbagai karya sastra. Karya sastra dianggap baik ketika mampu mewakili zamannya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Dharma (dalam Rokhman, 2003: 60-65) yakni proyek sosiologi adalah masyarakat. Naskah-naskah sastra bersumber dari realita yang ada di masyarakat, dan akan kembali pada masyarakat. Realita ini dibaca oleh penulis dan diimajinasikan –proses kreatif- sehingga tercipta suatu karya sastra.
Kajian psikologi sosial mengarah pada dua ranah: (1) tinjauan secara mikro, dan (2) tinjauan secara makro. Tinjauan mikro meliputi (1) persepsi, (2) apersepsi, (3) motif/ niat, (4) motivasi, dan (5) sikap. Adapun tinjauan secara makro terdiri atas (1) konflik, (2) cinta, (3) perasaan, dan (4) agresi. Masing-masing bidang ilmu memiliki penjabaran yang sangat luas, namun penulis membatasi pada aspek psikologis yang melatarbelakangi pengarang memberikan suatu citra pada tokoh.
Aspek Sosiopsikologis yang Dikaji
Kajian sosiopsikologis memiliki alat (berupa teori) yang sangat banyak untuk menafsirkan motif seseorang dalam melakukan sesuatu. Berikut akan penulis sampaikan beberapa teori yang mendukung analisa dalam pembahasan.
Pengertian istilah interaksi sosial yang dikemukakan oleh Bonner adalah hubungan antara dua atau lebih individu, dimana tingkah laku individu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki tingkah laku individu yang lain atau sebaliknya (Dayakisni, 2003: 65-66). Penekanan dari teori ini adalah perubahan dalam diri seseorang melalui interaksi dengan orang lain.
Masih menurut Dayakisni, terdapat lima faktor (berupa keadaan) yang yang memperlancar proses sugesti dapat diterima oleh individu lain. Kelima faktor tersebut adalah (1) sugesti karena hambatan berfikir, (2) sugesti karena hambatan terpecah –disosiasi-, (3) sugesti karena otoritas, (4) sugesti karena mayoritas, dan (5) sugesti karena will to be believe.
Suatu serangan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, obyek lain, atau bahkan pada dirinya sendiri adalah pengertian dari agresi (Dayakisni, 2003 : 195). Wujud agresi bermacam-macam, tergantung pelaku dan keadaan jiwanya pada saat itu.
Sedikitnya terdapat tiga syarat untuk mengkategorikan suatu tindakan sebagai perilaku agresi. Ketiga syarat tersebut adalah (1) niat pelaku –benar-benar ingin berbuat agresi, bukan karena ketidaksengajaan--, (2) terdapat keinginan bahwa dengan perilakunya dapat menimbulkan penderitaan atau kerusakan pada diri obyek atau sasaran, (3) keinginan obyek sasaran untuk tidak menghindari perilaku merugikan yang dilakukan oleh pelaku agresi (Hanurawan, 2001 : 53).
Delut dalam Dayakisni (2003: 213-214) menyatakan bahwa bentuk prilaku agresi digambarkan dalam bentuk item-item dari factor analysis of behavioral checklist, yang terdiri dari 11 item. Kesebelas item tersebut adalah (1) menyerang secara fisik, (2) menyerang dengan kata-kata, (3) mencela orang lain, (4) menyerbu daerah orang lain, (5) mengancam melukai orang lain, (6) main perintah, (7) melanggar milik orang lain, (8) tidak mentaati perintah, (9) membuat permintaan yang tidak pantas dan tidak perlu, (10) bersorak-sorak, berteriak, atau berbicara keras pada saat yang tidak tepat, dan (11) menyerang tingkah laku yang dibenci.
METODE PENDEKATAN
Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif diartikan sebagai metode yang mendeskripsikan makna dan data yang ditangkap oleh peneliti dengan menunjukkan buktinya. Metode ini juga dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.
Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif ini, diharapkan karya tulis ini memperoleh hasil analisis yang berupa deskriptif objektif tentang deskrips penggambaran tokoh oleh pengarang laki-laki dan perempuan ditinjau dari sudut pandang sosiopsikologis..
HASIL
Tabel 1
Kajian Sosiopsikologis terhadap Cerpen
Tabel 2
Telaah Sosiopsikologis pada Cerpen Daging dan Sang Buron
No. Aspek Sosiologis Aspek Psikologis
Daging Sang Buron
1 Interaksi Sosial Emak pada Udin Ustadz Kholil pada
Penduduk Kampung
Sugesti karena hambatan berfikir Sugesti karena hambatan berfikir
Sugesti karena pikiran terpecah Sugesti karena pikiran terpecah
Sugesti karena otoritas Sugesti karena mayoritas
Penjual pada Pembeli Karjo pada Mukhlis
Sugesti karena hambatan berfikir Sugesti karena otoritas
2 Agresi Preman pada Udin Karjo pada Masyarakat
Menyerang secara fisik Mengancam melukai orang lain
Menyerang dengan kata-kata Melanggar milik orang lain
Mencela orang lain Tidak mentaati perintah
Menyerang tingkah laku yang dibenci Menyerang tingkah laku yang dibenci
Nyonya Maliana pada Pembantunya Suryati pada Karjo
Menyerang secara fisik Menyerang dengan kata-kata
Menyerang dengan kata-kata Mencela orang lain
Mencela orang lain
Menyerang tingkah laku yang dibenci
PEMBAHASAN
Kajian Sosiopsikologis dalam Cerpen Daging Karya Sri Lestari
Interaksi Sosial
Merujuk pada pengertian interaksi sosial yang dipaparkan oleh Dayakisni, tujuan dari proses interaksi sosial adalah untuk mengubah perilaku orang lain.
Dalam cerpen Daging wujud interaksi dapat diidentifikasi melalui kutipan di bawah ini.
Ketika kondisi Karti semakin memburuk dan Udin terus meminta emaknya untuk segera membawa adiknya ke dokter. Emak yang sangat mengetahui kondisi keluarga malah menyuruh Udin untuk tidur. Ia mempersuasi Udin dengan keinginan Udin sendiri (membelikan Karti soto daging). Padahal secara psikis ia tidak mau tertekan oleh ucapan-ucapan anaknya yang belum mengerti kondisi keluarga.
"Tidurlah. Jangan terus bicara kalau kau ingin membawa Karti ke dokter dan membelikannya soto daging besok."
Udin terdiam. Memandangi maknya sekejap lalu membaringkan tubuhnya di lantai tanah. Merapat ke dinding kardus yang basah. Kain sarung kumal melindungi tubuh kurusnya yang terus mengigil. Matanya berkedip-kedip. Perlahan ia mencoba memejamkan mata. Hatinya berjanji. Besok, ia harus mendapatkan uang untuk membawa Karti ke dokter dan membeli soto daging!
Perintah emak ke Udin agar cepat tidur dapat dikategorikan sebagai salah satu wujud interaksi sosial. Motif yang ingin dicapai adalah agar Udin tidak terus mendesaknya membawa Karti ke dokter. Interaksi ini berhasil, terbukti Udin mahu menuruti apa yang dikatakan emak untuk tidur.
Proses psikis yang terjadi adalah sugesti kompleks. Dikatakan demikian karena banyak unsur sugesti yang digunakan emak kepada Udin. Sugesti itu adalah (1) sugesti karena hambatan berfikir --emak memberikan alasan agar Udin mau berfikir dan ia bisa menerima alasan yang dikemukakan oleh emak,-- (2) sugesti karena pikiran terpecah --Udin sedang memikirkan banyak hal, begitupula dengan emak, akan tetapi emak lebih menguasai keadaan sehingga mampu mesugesti Udin agar mahu tidur,-- dan (3) sugesti karena otoritas --posisi emak dalam keluarga di atas Udin yang hanya sebagai anak. Kondisi-kondisi tersebut di atas mampu mempengaruhi seseorang agar menuruti keinginan penyugesti.
Tabel 3
Sugesti Emak pada Udin
No. Jenis Sugesti Deskripsi
1 Sugesti karena hambatan berfikir Emak “memaksa” Udin agar mau menerima argumennya.
2 Sugesti karena fikiran terpecah Udin sedang memikirkan (a) kondisi adiknya, (b) janjinya pada Karti.
3 Sugesti karena otoritas Emak sebagai kepala rumah tangga sedangkan Udin sebagai anggota keluarga.
Proses interaksi sosial dalam cerpen Daging juga terjadi di pasar. Seorang perempuan menawar harga daging namun penjual tidak mau menurunkan dengan menggunakan alasan-alasan. Motif yang bisa dibaca adalah pembeli dengan menawar diharapkan bisa mendapatkan harga semurah mungkin. Sedangkan penjual tidak mau menurunkan harga karena ingin mendapat untung yang berlimpah.
"Sekilo limapuluh ribu, Bu. Maklumlah BBM naik, semua harga juga naik." Hari sedang menuju senja. Gerimis masih berderai. Pasar hiruk pikuk. Semrawut. Angin lembab meruapkan bau busuk sampah yang bertumpuk. Udin menghentikan langkahnya di blok penjual daging. Berdiri mematung. Menatap seorang wanita gemuk berambut keriting yang sedang memilih daging sapi segar sambil menawar-nawar harga.
Rasionalisasi yang dilakkan oleh penjual berhasil. Pembeli tetap membeli daging yang ia jual dengan harga yang ditentukannya. Proses interaksi sosial berlangsung kompleks. Pembeli mempengaruhi penjual agar harganya turun sedangkan penjual tetap menginginkan harga yang ia tawarkan.
Dalam hal ini telah terjadi proses sugesti karena hambatan berfikir yang dimenangkan oleh penjual. Penjual mengambil alih pandangan-pandangan pembeli tentang mahalnya harga daging dengan memberikan alasan-alasan yang masuk akal. Alasan-alasan yang dikemukakan dianggap oleh pembeli sesuai dengan kondisi yang ada sebenarnya. Pembeli yang dalam kondisi minim informasi --khususnya tentang harga daging,-- bisa menerima penjelasan dari penjual dan akhirya tetap membeli daging.
Tabel 4
Sugesti Penjual pada Pembeli
No. Jenis Sugesti Deskripsi
1 Sugesti karena hambatan berfikir Penjual mengeluarkan argumen yang rasional tentang kenaikan harga daging.
Agresi
Tokoh yang dikaji dalam tindak agresi di cerpen ini adalah preman pasar dan nyonya Maliana. Tindak agresi kedua tokoh tersebut sangat menonjol dalam cerita.
Tokoh pertama adalah preman pasar. Ia melakukan agresi kepada Udin dengan cara menyodok dengan lengannya. Ketika Udin melamun datanglah seorang perempuan yang meminta dibawakan barang bawaannya, namun Udin masih asik dengan lamunannya. Melihat yang demikian, preman pasar menyodok Udin disertai dengan kata-kata kasar.
"Heh! Tuli kau!? Atau tak mau uang?"
Udin hampir terjatuh di sodok lengan preman pasar yang kekar itu.
Sang preman melakukan tindak agresi komplek ke Udin. Tindak agresi tersebut adalah, (1) menyerang secara fisik, (2) menyerang dengan kata-kata, (3) mencela orang lain, (4) menyerang tingkah laku yang dibenci.
Tabel 5
Agresi Preman pada Udin
No. Jenis Agresi Deskripsi
1 Menyerang secara fisik Preman menyodok Udin sampai hampir terjatuh.
2 Menyerang dengan kata-kata Perkataan preman kurang sopan dan menyudutkan Udin.
3 Mencela orang lain Pertanyaan retoris disertai umpatan “tuli.”
4 Menyerang tingkah laku yang dibenci Preman tidak menyukai perilaku Udin yang melamun saat bekerja.
Perilaku agresi berikutnya dilakukan oleh nyonya Maliana. Ia melakukan agresi dengan sasaran pembantunya. Bila ditinjau dari penyebabnya, prilaku Maliana ini merupakan reaksi dari perbuatan pembantunya yang menghilangkan daging tumor.
Nyonya Maliana blingsatan. Marah besar. Memaki-maki pembantunya. Kecantikan wajahnya yang selalu terurus salon seketika lenyap. Ia kehilangan!
"Hah!? Kau lupa menaruh tas kresek itu? Dasar tolol!"
Air mata pembantu muda itu meleleh. Ketika mampir ke pasar beberapa hari lalu, ia benar-benar lupa membawa tas kresek hitam itu turun dari angkutan. Apakah lupa itu sebuah dosa? Sia-sia ia mengatakan hal yang sejujurnya pada Nyonya Maliana. Sekarang ia memilih diam. Toh, apapun yang ia katakan, wanita itu akan terus memaki-makinya.
"Kalau sampai tas kresek itu ditemukan orang dan terjadi apa-apa, kau harus bertanggungjawab!"
"Tapi Nyonya, saya,"
"Makanya, pakai otakmu!" Nyonya Maliana mendorong kepala pembantu yang tersedu itu kasar.
Pembantu Nyonya Maliana merasakan tindak agresi yang dilakukan oleh majikannya karena kecerobohannya –lalai meninggalkan tas kresek yang berisi daging tumor. Wujud agresi yang dilakukan oleh Maliana berupa (1) menyerang secara fisik, (2) menyerang dengan kata-kata, (3) mencela orang lain, dan (4) menyerang tingkah laku yang dibenci.
Tabel 6
Agresi Nyonya Maliana pada Pembantunya
No. Jenis Agresi Deskripsi
1 Menyerang secara fisik Mendorong kepala pembantu secara kasar.
2 Menyerang dengan kata-kata Semua perkataannya menyudutkan pembantu dan melukai perasaan.
3 Mencela orang lain Ia mengumpat “tolol” disertai dengan makian.
4 Menyerang tingkah laku yang dibenci Perilaku ini disebabkan kelalaian pembantunya menghilangkan tas berisi tumor.
Kajian Sosiopsikologis dalam Cerpen Sang Buron Karya Adhyra
Interaksi Sosial
Pada cerpen Sang Buron interaksi sosial dilakukan oleh Karjo dengan Mukhlis. Karjo menerima SMS dari orang asing yang mengabarkan ibunya yang berada di desa meninggal dunia. Keberadaannya sebagai target operasi Polisi membuatnya waspada. Ia tidak mau terjebak dalam perangkap Polisi yang telah lama mencarinya. Kemudian Karjo mengkonfirmasi kebenaran SMS tersebut pada sahabatnya di kampung (Mukhlis). Setelah mengetahui validitas SMS tersebut, Karjo berani mengambil keputusan untuk pulang menghadiri pemakaman ibunya.
Sejenak Karjo tercenung, mencoba menelusuri, siapa gerangan pengirim SMS itu? Setelah menemukan titik terang, ia tersenyum kecil. Lalu, ia mengontak Muklis; teman sepermainannya sejak kecil dulu - yang telah ia bantu secara materi - dan sekarang hidup cukup makmur di desa sebagai peternak kambing, menanyakan kebenaran berita itu. Setelah Muklis meyakinkan kebenaran berita itu, Karjo menghela napas lega.
Ketika Karjo menghubungi Mukhlis terdapat peristiwa sugesti. Mukhlis dipilih karena ia memiliki hutang budi pada karjo. Mukhlis telah diberikan modal untuk beternak kambing. Karjo hanya meminta agar Mukhlis menjaga ibunya. Sugesti yang dilakukan karjo dapat dikategorikan dalam sugesti otoritas. Kekuasaan Karjo atas Mukhlis menyebabkan dirinya bisa menyugesti Mukhlis untuk memberikan keterangan yang sebenarnya.
Tabel 7
Sugesti Karjo pada Mukhlis
No. Jenis Sugesti Deskripsi
1 Sugesti karena otoritas Karjo pernah memberikan modal usaha. Mukhlis merasa berhutang budi padanya.
Bentuk interaksi sosial yang kedua adalah ketika Ustadz Kholil ingin mengetahui isi surat Karjo. Karjo yang ditembak mati oleh Polisi ternyata memiliki keinginan untuk bertaubat setelah ibunya meninggal. Namun niatannya ini gagal karena ajal telah datang menjemput. Ustadz Kholil yang mengetahui isi surat Karjo melakukan interaksi dengan masyarakat yang ada di sekitarnya.
"Apa isi surat itu, Pak?" tanya Ustadz Kolil yang tadi memimpin pemakaman ibunya Karjo.
Dengan suara cukup keras, polisi itu segera membacanya: "Selesai pemakaman Ibuku nanti, aku akan bertobat. Aku harus mengakhiri petualanganku sebagai perampok kelas kakap. Di sisa usiaku ini, aku ingin mengambil jalan yang lurus, jalan yang benar, dengan nyantri di Pondek Pesantrennya Ustadz Kolil."
Semua yang hadir di rumah Karjo itu, seketika terkesima. Mereka seakan kehabisan kata, tak tahu harus berkata apa. Tapi segera Ustadz Kolil memekik dengan suara lantang: "Allahu Akbar!"
Ustadz Kholil menyugesti penduduk kampung untuk menghargai perbuatan dan niat Karjo untuk bertaubat. Terjadi peristiwa sugesti kompleks yaitu (1) sugesti karena hambatan berfikir, (2) sugesti karena pikiran terpecah, dan (3) sugesti karena mayoritas.
Wujud sugesti yang pertama adalah perbuatan Karjo yang sangat buruk selama hidupnya bisa dimaafkan hanya dengan sebuah surat pernyataan ingin taubat. Masyarakat bisa menerima ini karena secara materi mereka tidak dirugikan oleh perbuatan Karjo dan mengenal Karjo sebagai pribadi yang sukses. Selain itu mereka bisa membaca niat tulus Karjo untuk bertaubat.
Sugesti karena pikiran terpecah dapat dibuktikan dengan pikian warga saat itu. Sedikitnya ada lima hal yang sedang mereka pikirkan, (1) rasa berkabung terhadap kematian ibunya Karjo, (2) rasa bangga terhadap Karjo yang telah menjadi orang sukses, (3) ketidakpercayaan terhadap perbuatan Karjo yang ternyata pelaku kejahatan, (4) rasa terkejut oleh kematian Karjo, dan (5) rasa haru terhadap surat yang ditulis oleh Karjo. Ketika rasa ini masih bercampur-baur, dan mendapat sugesti dari orang terkemuka (Ustadz Kholil) untuk bertakbir yang bermaksud menghargai niat baik Karjo.
Sugesti mayoritas dilakukan oleh penduduk kampung terhadap Polisi yang menangkap Karjo. Penduduk kampung telah seide menganggap perbuatan karjo bisa dimaafkan, sedangkan Polisi merasa dipojokkan oleh sugesti yang disampaikan oleh penduduk kampung. Sugesti ini lebih ke arah kejiwaan bukan dalam betuk fisik.
Tabel 8
Sugesti Ustadz Kholil pada Penduduk Kampung
No. Jenis Sugesti Deskripsi
1 Sugesti karena hambatan berfikir Penduduk kaget mengetahui profesi Karjo –perampok bank- ditambah keinginannya untuk taubat.
2 Sugesti karena pikiran terpecah (a) berkabung terhadap kematian ibunya Karjo, (2) bangga terhadap Karjo yang telah menjadi orang sukses, (3) ketidakpercayaan terhadap profesi Karjo, (4) terkejut oleh kematian Karjo, dan (5) haru terhadap surat yang ditulis oleh Karjo
3 Sugesti karena mayoritas Penduduk kampung telah seide menganggap perbuatan karjo bisa dimaafkan.
Agresi
Hampir semua tokoh dalam cerpen ini melakukan tindak agresi. Akan tetapi penulis membatasi pembahasan pada beberapa tokoh antara lain Karjo dan Suryati. Masing-masing memiliki ketidaksamaan dalam wujud dan cara. Karjo dalam melakukan agresi lebih sering dalam bentuk fisik.
Mengacu pendapat Delut dalam Dayakisni (2001: 103) wujud prilaku agresi yang dilakukan oleh Karjo sedikitnya adalah menyerang secara fisik, melanggar milik orang lain, dan tidak mentaati perintah.
Di Jakarta, tanpa keahlian khusus, mencari kerja ternyata tak semudah yang diduga. Maka mulailah Karjo menggelandang sana-sini, menjelajah seantero Jakarta. Sampai akhirnya ia mendapatkan titik temu: Untuk dapat bertahan hidup di Kota Metropolitan yang ganas dan kejam ini, aku harus menggunakan keahlianku di desa, mencuri; tapi harus dengan tipu daya, alias mencopet!
...
Mula-mula secara kecil-kecilan. Mencopet di pasar-pasar tradisional, di terminal-terminal dan di bis kota. Ketika sudah punya banyak teman yang seprofesi, Karjo berniat menjadi penjahat kelas kakap! Dan untuk melaksanakan rencana besar ini, ia pun mengatur strategi.
Sesudah itu, dimulailah petualangan besar dan penuh risiko! Karjo menjadi perampok spesial bank. Bukan hanya di Jakarta, tapi di seluruh negeri. Banyak sudah bank dan nasabah-nasabah bank kelas besar yang menjadi korban Karjo dan kelompoknya. Jadi, tak pelak lagi, kalau Karjo bersama kelompoknya menjadi buron, menjadi target operasi polisi!
...
Dan pada saat itulah, tiba-tiba datang beberapa orang polisi mengepung rumah Karjo. Karjo merasa kebebasannya terancam. Ia tak mau dijebloskan ke dalam sel tahanan. Maka, secara spontan Karjo mengeluarkan pistol miliknya dan menembakkannya beberapa kali ke atas, guna mengacaukan suasana, agar mudah baginya untuk meloloskan diri.
Tapi para polisi itu lebih sigap. Karjo ditembak tepat di dadanya. Karjo pun jatuh tersungkur dengan bersimbah darah.
Karjo menyerang secara fisik dan melanggar milik orang lain dengan melakukan pencopetan serta perampokan bank. Tindakannya merupakan agresi yang diakibatkan keadaan ekonomi yang tidak mapan. Krahe dalam Hanurawan (2001: 54) menyebutkan tiga motif seseoang ketika melakukan agresi yaitu (1) sebagai reaksi terhadap peristiwa yang tidakmenyenangkan, (2) sebagai perilaku sosial yang dipelajari, dan (3) dimediasi oleh penilaian kognitif.
Karjo menyerang secara fisik dan melanggar milik orang lain dengan melakukan pencopetan serta perampokan bank. Tindakannya merupakan agresi yang diakibatkan keadaan ekonomi yang tidak mapan. Karjo melakukan tindakan pencopetan dan perampokan sebagai akibat dari kehidupan sosialnya yang carut marut. Ketika ia di Jakarta tidak bisa mencari pekerjaan secara halal, ia memutuskan untuk melakukan pencopetan. Lama-kelamaan ia mahir dan ingin beralih profesi menjadi perampok. Peralihan ini dipelajari dari kehidupan sosialnya yang turut memberikan pengaruh terhadap cara berfikir menghadapi kehidupan.
Tabel 9
Agresi Karjo pada Masyarakat
No. Jenis Agresi Deskripsi
1 Mengancam melukai orang lain Karjo mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke udara.
2 Melanggar milik orang lain Ia melakukan tindak pencopetan sampai perampokan bank.
3 Tidak mentaati perintah Perintah Polisi untuk menyerah tidak ia taati, malah ia berusaha kabur.
4 Menyerang tingkah laku yang dibenci Ia “menyerang” Polisi karena tidak mau ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Bentuk agresi yang dilakukan oleh Suryati adalah melalui media kata-kata serta mencela orang lain. Hal ini dilakukan karena rasa ketidaksukaannya pada Karjo yang ingin melamarnya.
"Menikah?" tawa Suryati bernada menghina. "Mau jadi apa rumah tanggaku nanti kalau menikah dengan kamu yang penjudi, pemabuk dan pencuri?"
Sesaat Karjo terdiam. Ditatapnya wajah ayu Suryati dengan penuh kekaguman.
"Ya, aku memang bejat, Ti," katanya kemudian sungguh-sungguh. "Tapi percayalah, semua itu akan aku tinggalkan kalau aku telah menikah denganmu."
Kembali Suryati tertawa sumbang.
"Lantas kau akan kerja apa? Dan, aku serta anak-anakku kelak akan kau beri makan apa?" cibir Suryati.
"Kerja apa saja, yang penting halal," sahut Karjo cepat. "Yang pasti, aku tak akan membuatmu sengsara."
"Maaf, semua itu baru angan-angan," potong Suryati. "Yang pasti, tak lama lagi aku akan dilamar dan menikah dengan Pak Broto."
"Kau akan menjadi istri yang ke berapa?" sela Karjo.
"Eit, jangan salah duga," ucap Suryati pula. "Aku sudah minta syarat pada Pak Broto, agar dia menceraikan semua istrinya dan dia setuju."
Semua perkataannya bernada sinis dan ditujukan kepada Karjo. Motif yang dilakukan Suryati adalah reaksi terhadap peristiwa yang tidak menyenangkan – dilamar Karjo--. Keteguhan hati Karjo dalam melamar membuat Suryati semakin frustasi. Kata-kata yang dikeluarkan semakin tidak sedap didengar oleh Karjo.
Secara teoritis frustasi yang dihadapi Suryati timbul karena pengaruh variabel perantara (Hanurawan, 2001 : 54). Variaberl perantara yang dimaksud adalah (1) ketakutan menjadi orang miskin, (2) dicap sebagai istri penjahat, dan (3) pandangan seseorang bahwa dirinya sebagai kembang desa akhirnya mendapatkan seorang penjahat sebagai suaminya.
Tabel 10
Agresi Suryati pada Karjo
No. Jenis Agresi Deskripsi
1 Menyerang dengan kata-kata Semua perkataan Suryati menyakiti hati Karjo.
2 Mencela orang lain Ia mencela pekerjaan Karjo sebagai penjudi, pemabuk dan pencuri.
KESIMPULAN
Bedasarkan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Jenis sugesti yang terdapat dalam cerpen Daging berupa
a. Sugesti emak pada Udin berupa (i) sugesti karena hambatan berfikir, (ii) sugesti karena fikiran terpecah, dan (iii) sugesti karena otoritas.
b. Sugesti penjual pada pembeli berupa sugesti karena hambatan berfikir.
2. Faktor analysis of behavioral cecklist yang terdapat pada perilaku agresi di cerpen Daging berupa
a. Factor analysis of behavioral cecklist preman pada Udin berupa (i) menyerang secara fisik, (ii) menyerang dengan kata-kata, (iii) mencela orang lain, dan (iv) menyerang tingkah laku yang dibenci.
b. Factor analysis of behavioral cecklist (i) menyerang secara fisik, (ii) menyerang dengan kata-kata, (iii) mencela orang lain, dan (iv) menyerang tingkah laku yang dibenci.
3. Jenis sugesti yang terdapat dalam cerpen Sang Buron berupa
a. Sugesti Karjo pada Mukhlis sugesti karena otoritas.
b. Sugesti Ustadz Kholil pada penduduk kampung berupa (i) sugesti karena hambatan berfikir, (ii) sugesti karena fikiran terpecah, dan (iii) sugesti karena mayoritas.
4. Factor analysis of behavioral cecklist yang terdapat pada perilaku agresi di cerpen Sang Buron berupa
a. Factor analysis of behavioral cecklist Karjo pada masyarakat berupa (i) mengancam melukai orang lain, (ii) melanggar milik orang lain, (iii) tidak mentaati perintah, dan (iv) menyerang tingkah laku yang dibenci.
b. Factor analysis of behavioral cecklist Suryati pada Karjo berupa (i) menyerang dengan kata-kata dan (ii) mencela orang lain.
5. Terdapat perbedaan cara penggambaran tokoh antara penulis perempuan dengan penulis laki-laki. Hal ini dipengaruhi oleh posisi tokoh dalam cerita.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo Offset: 186.
Anggoro, Donny. 2004. Sastra yang Malas: Obrolan Sepintas Lalu. Solo: Tiga Serangkai: 33-34.
Dayakisni, Tri. et.al. 2003. Psikologi Sosial (Ed.Ref). Malang: UMM Press: 65-66, 195, 213-214.
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama: 77-81.
Hanurawan, Fattah. 2001. Dasar-dasar Psikologi Sosial. Malang: Triutara Press(ca): 53-54.
Jabrohim (ed). 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT Hanindita Graha Widia: 167.
Rokhman, Arif (et.al).2003. Sastra Interdisipliner: Menyandingkan Sastra dan Disiplin Ilmu Sosial. Yogyakarta: CV Qalam: 60-65.
Selasa, 27 April 2010
PENCIPTAAN SUASANA MASYARAKAT BELAJAR
PENCIPTAAN SUASANA MASYARAKAT BELAJAR
SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MINAT BACA
BAGI MASYARAKAT
Arif Irfan Fauzi
ABSTRAK
Untuk mewujudkan dan menyukseskan serta melaksanakan visi dan misi pembangunan nasional, maka diperluhkan adanya SDM yang berkualitas yaitu manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat, yang berpotensi untuk mengelolah kekayaan alam bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia. Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas dibutuhkan adanya upaya penciptaan suasana masyarakat belajar. Penciptaan suasana masyarakat belajar yang kondusif sangat mempengaruhi pelaksanaan dan perwujudan visi dan misi pembangunan nasional.
Upaya penciptaan masyarakat belajar adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari orangtua, masyarakat, guru, pihak sekolah dan sebagainya. Untuk mendukung upaya tersebut perlu penulis mengusulkan diadakannya reformasi perpustakaan, perpustakaan maya, perpustakaan keliling, rumah baca, penyebaran bookled dan tabloid serta program e-learning. Sebenarnya masih ada usaha lain yang bisa mendukung penciptaan masyarakat belajar akan tetapi karena keterbatasan peneliti maka hal itu tidak peneliti uraikan.
Peran SDM yang handal dalam menyukseskan pembangunan nasional sangatlah besar sekali. Mereka yang menguasai ilmu dapat dipastikan akan menjadi aset yang diharapkan bisa meningkatkan daya saing bangsa.
Kata kunci : masyarakat belajar, pembelajaran, ilmu pengetahuan, daya saing bangsa.
PENDAHULUAN
Arus globalisasi yang melanda dunia, memaksa masyarakat untuk bersaing antara satu dengan yang lainnya. Persaingan ini menuntut adanya potensi dalam diri masing-masing individu yang berpartisipasi dalam era globalisasi.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya ikut terseret dalam era pasar bebas. Kekayaan alam yang melimpah merupakan nilai tambah bagi Indonesia dalam upaya menyukseskan pembangunan nasional dan berperan dalam persaingan kelas dunia. Namun, kekayaan alam yang melimpah tanpa adanya kualitas sumber daya manusia yang baik belum cukup bagi upaya dalam penciptaan pembangunan berkelanjutan dan mengantarkan Indonesia dalam persaingan dunia. Oleh karena itu, masyarakat dituntut agar mampu menghadapi persaingan yang makin kompetitif, baik di dalam maupun di luar. Salah satu cara untuk mengantisipasi persaingan yang makin kompetitif tersebut adalah melalui peningkatan kualitas SDM yang komprehensif.
Salah satu penyebab rendahnya SDM di negara kita adalah kurangnya minat belajar masyarakat. Awal masuknya ilmu pengetahuan adalah dengan membaca, oleh karena itu penumbuhkembangan kegiatan membaca perlu digalakkan. Ketika masyarakat kita sudah jauh dari budaya belajar dapat dipastikan kebodohan akan semakin meluas.
Dalam sebuah penelitian berkenaan dengan pemahaman makna kata, masyarakat kita mengidentifikasi belajar sebagai kegiatan membaca, menulis dan berhitung (Fauzi, 2005). Selanjutnya, dalam penelitian tersebut juga diutarakan tentang aspek-aspek yang menyebabkan kurangnya minat belajar oleh masyarakat. Hasilnya ditemukan empat aspek yaitu, (1) kurangnya kesadaran pentingnya belajar, (2) keterbatasan dana sehingga tidak bisa mencari sumber belajar, (3) keterbatasan waktu –ada pekerjaan yang lebih diprioritaskan, (4) suasana yang kurang kondusif, dan (5) kurangnya sarana belajar.
Melalui tulisan ini, penulis memberikan usulan-usulan yang bisa digunakan untuk meningkatkan minat baca, bukan hanya di kalangan pelajar dan mahasiswa akan tetapi juga diperuntukkan bagi masyarakat pasca sekolah. Ini sesuai dengan konsep long live education yang telah dicanagkan tetapi masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya.
Penulis mengusulkan penciptaan masyarakat belajar dimulai dari lingkungan si belajar (keluarga, sekolah, dan masyarakat), selain itu perlu dikembangkan sarana-sarana yang mendukung kegiatan pembelajaran seperti perpustakaan digital, perpustakaan keliling, rumah baca, penyebaran informasi melalui bookled dan tabloid, serta pembelajaran melalui media elektronik (e-learning).
Tulisan ini diharapkan menjadi sumbangsih penulis dalam rangka upaya mewujudkan masyarakat belajar dan membelajarkan masyarakat yang pada akhirnya tumbuh budaya baca di masyarakat. Hal ini tentunya akan berpengaruh baik terhadap peningkatan mutu sumber daya manusia di Indonesia.
Redevinisi Pendidikan Nasional
Di dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan tujuan terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu upaya mencerdaskan kehidyupan bangsa adalah melaluyi proses pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga seseorang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan (Muhibbin, 2003:10).
Notonagoro (dalam Parsono,1990:1-39) mendefinisikan pendidikan nasional sebagai suatu sistem pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup suatu bangsa dan tujuannya bersifat mengabdi kepada kepentingan dan cita-cita nasional bangsa tersebut.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan nasional merupakan teori dan praktek pendidikan suatu negara yang berlandaskan filsafat bangsa guna diabdikan kepada bangsa dan negara yang bersangkutan untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya.
Tilaar (2000:20) berpendapat dalam rangka meredefinisi pendidikan nasional ada tiga hal yang perlu dikaji kembali yaitu: (1) pendidikan tidak dapat dibatasi hanya schooling, (2) pendidikan bukan hanya mengembangkan potensi intelegensi akademik, dan (3) pendidikan bertujuan membuat manusia berbudaya. Dari pendapat tersebut maka dapat dikatakan bahwa proses pendidikan dapat dirumuskan sebagai proses hominisasi dan humanisasi seseorang yang berlangsung di dalam lingkungan hidup keluarga dan masyarakat yang berbudaya.
Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional adalah membangun kualitas manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu dapat meningkatkan kebudayaan dengan-Nya, sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila mempunyai semangat dan kesadaran yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur, dan berkepribadian yang kuat, cerdas, trampil, dapat mengembangkan dan menyuburkan sikap demokrasi, dapat memelihara hubungan yang baik antara sesama manusia dan dengan lingkungannya, sehat jasmani, mampu mengembangkan daya estetik, berkesanggupan untuk membangun diri dan masyarakatnya (Suryosubroto, 1983: 18-20).
Dalam setiap aktifitas manusia, baik disadari maupun tidak, baik langsung maupun tidak langsung terjadi suatu proses belajar-mengajar. Cronbach dalam Sardiman (1995: 22), memberikan definisi belajar sebagai berikut “learning is shown by a change in behaviour as a result of experience.”
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pendidikan
Hak dan kewajiban warga negara, orangtua, masyarakat dan pemerintah dalam rangka menyukseskan pendidikan tertuang dalam bab IV undang-undang nomor 20 tahun 2003. Dalam pasal 5 ayat 1 disebutkan bahwa, “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan (Undang-undang Sisdiknas).” Ini berarti tidak ada penghalang bagi setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan diperuntukkan bagi siapa saja, tidak mengenal jenis kelamin, usia, maupun status sosial.
Selanjutnya dalam pasal 6 ayat 2 berbunyi “Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan (Undang-Undang Sisdiknas).” Pada pasal ini tertuang kewajiban warga negara dalam keberlangsungan pendidikan. Masih di bab yang sama, dalam pasal 7 disebutkan berkenaan dengan hak dan kewajiban orangtua terhadap pendidikan khususnya anak mereka yang dalam usia wajib belajar.
Terkait dengan peran serta masyarakat dalam pendidikan telah diatur dalam bab XV pasal 54 ayat 1 yang berbunyi “Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraaan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan (Undang-Undang Sisdiknas).”
Tilaar (1997:237-240) membatasi ciri-ciri masyarakat yang berpartisipasi (Participating Society) dalam pendidikan sebatas masyarakat yang produktif, sadar akan hak-hak dan kewajibannya, sadar hukum dan bertekad untuk mandiri. Lebih jauh lagi, ia menjabarkan karakteristik participating society adalah (1) masyarakat yang kritis, (2) mampu berdiri sendiri, (3) masyarakat yang mau berkarya.
Peran serta masyarakat yang lebih kongkrit dalam pendidikan disebutkan dalam pasal 55 ayat 1 yang berbunyi “Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya untuk kepentingan masyarakat (Undang-Undang Sisdiknas).” Berkenaan dengan teknisnya disebutkan dalam ayat 2, 3, dan 4.
Minat dan Budaya Baca
Minat baca dapat diartikan kecenderungan hati yang tinggi seseorang terhadap sesuatu sumberbacaan tertentu. Sedangkan budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan (Sutarno, 2003:19).
Pendorong bangkitnya minat baca ialah kemampuan membaca, dan pendorong bagi berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan baca yang baik, menarik, memadahi, baik jenis, jumlah maupun mutunya(Sutarno, 2003:20).
Terdapat lima faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) Rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan, dan rasa informasi, (2) keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam artian tersedianya bahan baca yang menarik, berkualitas, dan beragam, (3) keadaan lingkungan sosial yang kondusif, maksudnya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca, (4) rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang aktual, (5) berprinsip bahwa membaca adalah suatu kebutuhan rohani. (Sutarno, 2003).
Perpustakaan Modern
Perpustakaan sekolah hendaknya menyediakan buku-buku yang dibutuhkan/diminati siswa sesuai dengan gejolak/perkembangan jiwa remaja, asal isi buku-buku tersebut mendidik. Josette Frank berpendapat anak-anak biasanya lebih senang membaca dari suatu buku yang telah membuatnya bahagia (Sulistyowati, http://www.pikiran rakyat.com).
Seiring dengan perkembangan informasi maka bentuk-bentuk informasi tidak hanya terbatas pada tulisan dalam buku, akan tetapi bisa berupa gambar, animasi, audio, bahkan video. Dalam menyiasati hal tersebut dibutuhkan suatu media penyimpanan yang lebih cepat seperti kaset, video film, slide dan sebagainya. Penggunaan media baru ini dikarenakan efisiensi dan kemudahan dalam pencarian kembali informasi yang telah diakses.
Konsep kepemilikan informasi yang tadinya ditekankan pada penyediaan gedung serta koleksi selengkap mungkin, tak lagi mungkin untuk dipenuhi, padahal informasi memang tersedia, terus berkembang dan dibutuhkan bagi pembentukan masyarakat belajar (Rahardjo, http://www.virtual-library.org). Di sisi yang lain, masalah melimpahnya informasi, kompleksitas dalam penggunaan teknologi informasi, media informasi serta alat penelusuran mau tak mau juga menuntut perpustakaan untuk menjalankan peran lebih sebagai pilot atau penunjuk jalan.
Metodologi Penulisan
Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif diartikan sebagai metode yang mendeskripsikan makna dan data yang ditangkap oleh penulis dengan menunjukkan buktinya. Metode ini juga dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
sebagaimana adanya.
Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif ini, diharapkan karya tulis ini memperoleh hasil analisis yang berupa deskriptif objektif tentang penciptaan masyarakat belajar.
PEMBAHASAN
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Semua golongan masyarakat memiliki kesamaan hak untuk mendapatkan pendidikan. Tidak perduli dari strata rendah maupun tinggi, tidak ada penggolongan gender, maupun usia. Kesempatan untuk belajar yang ada hendaknya dimanfaatkan oleh setiap orang, agar mendapatkan hasil yang maksimal. Untuk itu perlu diciptakan suasana-suasana yang mendukung proses pembelajaran tersebut.
Maraknya pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi merupakan indikasi bahwa adanya peningkatan dalam hal pelayanan pendidikan.. Konsekuensi logis yang diemban oleh masyarakat adalah mereka dipaksa untuk mendukung penciptaan masyarakat belajar bahkan juga terlibat di dalamnya secara aktif. Pandangan masyarakat tentang cara mendapatkan ilmu haruslah diubah. Ilmu tidak hanya didapat melalui pendidikan formal melainkan juga melalui pendidikan nonformal. Jadi tidak hanya mereka yang bersekolah yang perlu belajar, tetapi semua golongan masyarakat. Tentu dengan porsi dan cara yang berbeda. Minimal mereka bisa mendukung kegiatan belajar.
Sarana belajar yang ada dalam proses pembelajaran perlu di optimalkan penggunaannya. Tidak hanya diperuntukkan kepada mereka yang duduk di bangku sekolah tetapi juga kepada masyarakat luas. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu adalah hajat hidup orang banyak, maka setiap orang berhak mendapat perlakuan yang sama untuk mendapatkan ilmu.
Peran Serta Orang tua, Guru, dan Masyarakat dalam Penciptaan Masyarakat Belajar
Semua warga negara Indonesia bertanggung jawab terhadap program penciptaan masyarakat belajar. Maksudnya setiap orang memiliki beban dan tanggung jawab yang sama guna menciptakan masyarakat belajar. Yang membedakan adalah porsinya, sesuai dengan kedudukan kita dalam masyarakat.
Begitu pentingnya perilaku belajar bagi keberlangsungan bangsa ini menyebabkan semua orang bertanggung jawab atasnya. Sebagai bagian dari negara ini, kita dituntut untuk mendukung suksesnya kegiatan belajar, minimal dengan cara mendukung penciptaan suasana belajar.
Untuk menumbuhkembangkan minat baca siswa, peran orang tua, guru, sekolah, masyarakat, pemerintah sangat dibutuhkan Orang tua dapat menjadi contoh di rumah dengan membiasakan membaca apa saja (koran, majalah, tabloid, buku, dan sebagainya.) menyediakan bahan-bahan bacaan yang menarik dan mendidik atau dengan membuat perpustakaan mini di rumah, mengajak anak berkunjung ke pameran buku sesering mungkin, memasukkan anaknya ke lembaga kajian keilmuan, les maupun menjadi anggota perpustakaan.
Orang tua juga dianjurkan menjadwal aktifitas anak sehari-hari. Pada saat anak belajar, maka orang tua dianjurkan menemani atau minimal mendukungnya dengan tidak mengganggu. Misalnya tidak menyalakan televisi maupun melakukan aktifitas yang dapat memalingkan anak dari kegiatan belajar. Apabila diperlukan orang tua bisa mengajak anaknya diskusi tentang topik yang dipelajari anak.
Guru dapat mengajak siswa untuk membaca/ menelaah buku-buku yang menarik di perpustakaan, dan memberi tugas yang sumbernya dicari di perpustakaan. Guru dapat pula mewajibkan siswa membaca satu buah buku setiap minggu, dan orangtua wajib menandatangani laporannya. Perlu dicatat bahwa teori yang mengatakan guru adalah satu-satunya sumber ilmu sudah tidak berlaku lagi. Sekarang guru lebih berfungsi sebagai kompas bagi anak untuk mendapatkan ilmu. Guru bisa menugaskan siswa mencari sesuatu pengetahuan bebas dimana saja bisa di perpustakaan, taman baca, televisi, wawancara dengan orang yang berkompeten dan sebagainya. Intinya guru berusaha agar anak didik mereka bisa memanfaatkan media-media yang ada dalam angka pengembangan potensi yang ada di dalam diri mereka.
Masyarakat pun dapat berperan aktif menumbuhkan minat baca dengan mendirikan klub/ forum membaca, seperti rumah baca, pondok baca, sanggar belajar, dan sebagainya. Bahkan untuk menunjukkan kenyamanan dan kenikmatan dalam membaca buku, bisa juga menyediakan buku di tempat-tempat umum seperti kafe, stasiun, terminal dan sebagainya. Ini adalah implementasi Bab XV pasal 54 Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 yang berisi tentang partisipasi masyarakat dalam pendidikan.
Masyarat juga dapat mendukung program masyarakat belajar dengan menghormati jam belajar bagi siswa. Misal antara pukul tujuh pagi sampai pukul satu siang dan pukul enam sore sampai pukul delapan malam, masyarakat menciptakan suasana yang kondusif untuk memudahkan para siswa menyerap ilmu. Tidak menciptakan kegaduhan, atau membuat kegiatan yang bisa memalingkan anak dari aktifitas belajar.
Sekolah dapat menumbuhkan minat baca siswa dengan menjadikan perpustakaan bersifat aktif dan kondusif. Perpustakaan sekolah dapat mengadakan klab baca, hari baca, wajib baca, jam baca dalam satu minggu, promosi, iklan, resensi buku, telling story, lomba (membuat cerpen, puisi, resensi buku, dan sebagainya).
Untuk merangsang siswa agar rajin mengunjungi perpustakaan dan meminjam buku, perpustakaan sekolah dapat pula memberikan semacam penghargaan atau hadiah kepada pengunjung/peminjam buku paling rajin yang diadakan tiap semester atau tiap tahun (Sulistyowati, http://www.pikiran rakyat.com).
Inti permasalahan dalam penciptaan masyarakat belajar adalah terletak pada kesadaran pada masing-masing individu. Apabila mereka menyadari betapa pentingnya belajar terhadap intelegensi siswa maka dengan sendirinya mereka akan ikut proaktif dalam penciptaan masyarakat belajar.
Efektifitas Reformasi Perpustakaan dalam Penciptaan Masyarakat Belajar
Perpustakaan konfensional yang ada sekarang hendaknya perlu mengaktualisasikan diri agar tidak kehilangan pengunjung. Mereka harus mampu menjawab kebutuhan pembaca akan buku. Oleh karena itu perpustakaan selain memuat buku-buku pelajaran, juga hendaknya memuat buku-buku yang digemari siswa (remaja) masa kini. Selain itu untuk meningkatkan kenyamanan membaca dan agar siswa betah di perpustakaan, perpustakaan boleh memperdengarkan musik yang lembut.
Peran pustakawan sekolah berbeda dengan pustakawan umum. Pustakawan sekolah hendaknya memiliki wawasan kependidikan, yaitu dalam mengelola perpustakaan lebih diarahkan kepada fungsi kependidikan. Pustakawan sekolah tidak hanya mengerjakan tugas "standar" seperti akuisisi, klasifikasi, membuat katalog/kartu indeks, labeling, tetapi juga dapat memahami keinginan pengunjung atau mengerti psikologi siswa.
Perpustakaan sekolah hendaknya menyediakan buku-buku yang dibutuhkan/ diminati siswa sesuai dengan gejolak/ perkembangan jiwa remaja, asal isi buku-buku tersebut mendidik. Josette Frank dalam Sulistyowati berpendapat anak-anak biasanya lebih senang membaca dari suatu buku yang telah membuatnya bahagia (Sulistyowati, http://www.pikiran rakyat.com).
Ketika minat membaca, yang dimulai pada usia muda, diharapkan dapat berkembang menjadi suatu kebutuhan (kesenangan) sehingga akan terbentuk siswa yang berkualitas dan berdaya saing atau berkompeten. Kemudahan mendapatkan beragam buku kini bukan lagi menjadi persoalan. Beragam komponen industri perbukuan, mulai dari penerbit, distribusi, hingga para penjual telah terbentuk sedemikian rupa hingga memudahkan konsumen mendapatkan semua keinginannya.
Perpustakaan Digital
Konsep kepemilikan informasi yang tadinya ditekankan pada penyediaan gedung serta koleksi selengkap mungkin, tak lagi mungkin untuk dipenuhi, padahal informasi memang tersedia, terus berkembang dan dibutuhkan bagi pembentukan masyarakat belajar (Rahardjo, http://www.virtual-library.org). Di sinilah perpustakaan mulai dituntut untuk menjalankan peranan sebagai mediator informasi. Akses ke informasi seluas mungkin dari mana saja dan kapan saja menjadi lebih penting dari kepemilikan.
Koleksi tak perlu tersedia di perpustakaan secara fisik, tetapi dapat diperoleh ketika dibutuhkan. Dalam peranannya sebagai mediator ini, perpustakaan dituntut untuk menyediakan hubungan-hubungan dengan para ahli ataupun pusat-pusat informasi dengan cara mencari, mengumpulkan, bekerjasama, baik secara gratis maupun berlangganan pangkalan data yang sesuai agar dapat diakses oleh pengguna dari mana saja dan kapan saja secara fleksibel. Penyediaan sarana jaringan maupun terminal komputer menjadi suatu kebutuhan dalam memberikan layanan pada suatu institusi secara fleksibel. Layanan dapat saja diberikan tanpa batasan tempat, waktu ataupun golongan pengguna, bahkan dapat diberikan secara customized.
Semakin berkembangnya teknologi informasi maupun jumlah informasi, makin berkembang pula jenis informasi maupun media untuk menyimpan informasi. Pada masa lalu masyarakat mengenal informasi yang dituangkan dan diperoleh dalam bentuk teks yang cukup tersimpan dalam bentuk/media cetakan. Seiring dengan perkembangan, informasi dalam bentuk-bentuk lain seperti grafis/gambar, suara, animasi maupun video mulai dikembangkan. Informasi-informasi jenis ini tentunya memerlukan media penyimpanan lain yang lebih tepat, seperti kaset, video, film, slide dan sebagainya.
Perpustakaan Keliling
Perpustakaan keliling merupakan sebuah perpustakaan yang ditempatkan dalam sebuah kendaraan yang mendatangi pembaca atau sekedar ingin menarik minat baca. Dengan adanya perpustakaan keliling, ibu-ibu yang sedang tidak berkegiatan di rumah bisa sejenak keluar dan membaca buku-buku yang mereka sukai. Bisa berupa resep masakan, majalah wanita, koran, atau bahkan buku-buku ilmu pengetahuan umum. Pasar dari perpustakaan keliling sebenarnya tidak terbatas pada kaum ibu saja, tetapi lebih luas kepada masyarakat luas yang tidak mempunyai waktu berkunjung ke perpustakaan.
Bisa juga perpustakaan keliling mendatangi objek-objek wisata, alun-alun, maupun tempat umum lainnya. Intinya tujuan diadakan perpustakaan keliling ini adalah, dimanapun seseorang itu singgah maka disitu ada buku. Diharapkan dengan kemudahan akses mendapatkan bacaan maka minat baca masyarakat dapat bertambah. Mereka tidak usah repot-repot membeli buku, tinggal datang ke perpustakaan ini, mendaftar lalu bisa membaca buku yang disediakan.
Pengaturan dan penjadwalan perpustakaan keliling dapat diatur sesuaidengan kondisi dan situasi masyarakat setempat. Dalam hal ini penulis mempunyai gagasan bahwa tidak setiap hari perpustakaan keliling singgah di tempat yang sama. Akan tetapi perlu adanya penjadwalan, maksudnya pada tanggal sekian dan sekian maka perpustakaan ini akan berada di alun-alun, tanggal berikutnya akan berada di jalan ”A” dan seterusnya.
Pada perpustakaan keliling, tentu saja pembaca tidak bisa membawa pulang buku-buku yang mereka pinjam. Buku-buku tersebut hanya bisa di baca di tempat. Untuk itu pengelola haruslah cerdik, maksudnya bisa memikirkan bagaimana pembaca bisa membaca dengan nyaman. Mereka bisa membawa beberapa kursi, meja, karpet, atau apa saja yang bisa mempernyaman pembaca.
Dikarenakan waktu yang terbatas, baik dari pembaca maupun dari perpustakaan itu sendiri, maka bisa jadi pembaca belum puas dalam membaca akan tetapi mereka harus kembali beraktifitas atau perpustakaannya sudah akan ditutup. Untuk menyiasatinya maka pengurus perpustakaan dapat memberitahukan kepada pembaca bahwa mereka bisa membaca atau bahkan meminjam buku tersebut ke perpustakaan umum yang ditunjuk. Perpustakaan umum yang dimaksud bisa berupa perpustakaan kota, perpustakaan pribadi, perpustakaan sekolah, maupun perpustakaan penyelenggara program perpustakaan keliling ini. Sehingga bisa dikatakan bahwa dengan adanya perpustakaan keliling bisa menggiring pembaca ke perpustakaan konvensional yaitu dengan menumbuhkan perasaan suspence dan foreshedoing (pembayangan bacaan selanjutnya dan bertanya-tanya kelanjutannya) kepada pembaca.
Adanya perpustakaan keliling memang diperuntukkan bagi mereka masyarakat golongan bawah, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang berasal dari strata menengah bahkan atas. Fungsi pokok dari perustakaan keliling ini adalah memasyarakatkan buku sebagai upaya peningkatan minat baca masyarakat guna menciptakan suasana masyarakat belajar. Selain itu, bisa digunakan sebagai promosi buku di perpustakaan umum.
Virtual Library (Perpustakaan Maya)
Perpustakaan Maya merupakan sebuah perpustakaan atau suatu jaringan dari beberapa perpustakaan yang menghubungkan sumber informasi dan layanan dengan pengguna serta memberikan kesempatan untuk dapat diakses dari mana saja dan oleh siapa saja. Koleksi, layanan maupun pengguna dapat saja tersebar atau terpisah oleh jarak dan waktu, namun tetap dapat terhubung satu sama lain dengan memanfaatkan jaringan antar perpustakaan dan teknologi informasi .
Melalui pembentukan jaringan Perpustakaan Maya, perpustakaan dapat menyediakan akses informasi yang lebih luas dan terbuka dalam hal jenis, bentuk dan jangkauan layanan serta hubungan yang lebih cepat antar perpustakaan anggota jaringan, antara jasa layanan sumber informasi dengan jaringan informasi global yang ada. Dengan adanya jaringan ini perpustakaan dapat menawarkan layanan informasi dalam bentuk yang baru dan inovatif, mengurangi biaya penulusuran serta penyebaran informasi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan produktivitas dari jasa layanan informasi perpustakaan itu sendiri.
Faktor yang mendorong berkembangnya jenis media penyimpanan informasi adalah efisiensi dan kemudahan dalam pencariannya kembali. Informasi atau publikasi, baik dalam bentuk teks, gambar, suara atau bahkan gabungan dari berbagai informasi (multimedia) mulai disimpan dalam bentuk digital seperti CD-Rom ataupun web di internet. Selain istilah-istilah di atas, istilah lain yang banyak dipakai adalah Bookless Library yang menunjuk kepada perpustakaan yang memiliki koleksi mayoritas dalam bentuk digital/elektronik (Rahardjo, http://www.virtual-library.org).
Di lain pihak, dari beberapa definisi, istilah Bahasa Inggris "Virtual" mempunyai arti tak nyata, maya atau ilusi tetapi merupakan representasi dari sesuatu yang nyata, atau dapat juga diartikan sebagai sesuatu kondisi yang tanpa kendala dan batas .
Dengan dimanfaatkannya teknologi informasi baik dalam bidang komputer, telekomunikasi maupun internet, baik dalam pengelolaan kegiatan, penyimpanan koleksi maupun penyajian layanan, dapat saja sebuah perpustakaan tidak harus dibatasi oleh adanya sebuah bangunan yang harus didatangi secara fisik layanan informasi dapat tetap diberikan dalam bentuk apa saja, kapan saja dan di mana saja melalui sarana teknologi informasi. Bentuk perpustakaan seperti inilah yang disebut sebagai Virtual Library atau Perpustakaan Maya yang tetap ada walau tidak nampak secara fisik. Dalam hal ini tidak nampak pula apakah perpustakaan terdiri dari satu perpustakaan atau gabungan dari beberapa perpustakaan.
Peran Rumah Baca sebagai Media Pembelajaran bagi Masyarakat
Perlahan tapi pasti minat baca-tulis masyarakat Indonesia sudah mulai tumbuh. Sayangnya, pertumbuhan baca-tulis itu tak didukung akses dan fasilitas untuk memperlancar aktifitas tersebut. Tak heran, bila hingga saat ini jarak antara masyarakat terutama kelas bawah dengan ilmu pengetahuan masih sangat jauh.
Kebutuhan ilmu pengetahuan seseorang tidak hanya terbatas ketika mereka bersekolah. Saat bermain, bepergian, makan malam di kafe dan sebagainya terkadang muncul keinginan untuk mengetahui sesuatu. Oleh karena itu keberadaan rumah baca perlu ditumbuhkembangkan. Masyarakat bisa mendapatkan hal baru yang tidak diduga-duga sebelumnya. Kesenangan mereka akan lebih memotifasi untuk lebih banyak membaca, banyak belajar, dan banyak mencari ilmu pengetahuan. Buku yang dimaksud tentunya bukanlah ilmu pengetahuan murni yang berisi teori-teori yang menmbutuhkan banyak pemikiran, akan tetapi yang sudah dibungkus dengan humor, permainan, tips dan sebagainya.
Selain itu keberadaan taman baca akan membantu masyarakat strata bawah karena mereka bisa mendapatkan informasi, pengetahuan, dan sebagainya dengan cara yang murah, bahkan gratis. Untuk pergi ke toko buku ataupun meminjam buku di perpustakaan mereka enggan sebab tidak adanya anggaran yang mencukupi untuk membeli buku atau waktu mereka yang hanya digunakan untuk bekerja. Akan tetapi dengan keberadaan taman baca tentu mereka tidak usah berpikir panjang untuk mendapat sesuatu yang berharga. Seorang tukang becak misalnya sambul menunggu penumpang ia bisa meminjam buku ke taman baca. Seperti kita ketahui bersama bahwa kesempatan mendapatkan ilmu bukan hanya hak orang mampu saja, akan tetapi hak semua warga negara tanpa terkecuali.
Komposisi taman baca bukan hanya berupa buku-buku, kamus, dan sebagainya. Sebenarnya bila kita membicarakan isi dari taman baca sangatlah tergantung dari pasar yang akan kita sentuh. Ketika kebutuhan mereka berupa masalah perekonomian maka buku-buku yang berkenaan dengan ekonomi harus kita maksimalkan. Ketika mereka menyukai humor maka ilmu pengetahuan perlu kita bungkus dengan humor-humor segar. Hal ini bukan berarti buku-buku lain dinafikan, buku-buku yang kurang diminati perlu kita pajang sebagai pelengkap galeri. Boleh jadi ketika mereka sudah bosan dengan suatu topik akan mencoba mengalihkan ke topic lain. Atau mungkin ada pengunjung yang bukan dari golongan masyarakat setempat.
Intinya sebisa mungkin buku-buku yang ada lengkap, berisi ilmu pengetahuan yang dibungkus dengan gaya bahasa human interest, dan tidak menjemukan. Ini akan menimbulkan harapan meningkatnya minat baca di kalangan masyarakat strata bawah yang akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia mereka.
Pengaruh Penyebaran Bukled dan Tabloid terhadap Peningkatan Minat Baca Masyarakat
Penyebaran bokled dan tabloid dapat dilakukan oleh siapa saja asal diikuti rasa tanggung jawab. Ini bisa berisi pengetahuan ringan, tips, info aktual, dan sebagainya. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat golongan bawah yang tentu kesulitan memperoleh informasi. Kesan edukatif haruslah diutamakan, memang tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat berkenaan dengan issu aktual yang terjadi, bagaimana menyikapinya, dan apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi hal tesebut. Akan tetapi perlu diingat, dalam tulisan yang ada hendaknya perlu dihindari kesan profokatif sehigga akan menimbulkan gejolak di masyarakat.
Bokled dan tabloid diberikan secara cuma-cuma, oleh karena itu sangat memungkinkan memasang beberapa sponsor sebagai penyokong pendanaan. Melalui hal ini berarti kita melibatkan kalangan pengusaha dalam mensukseskan program masyarakat belajar. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pendidikan merupakan tanggug jawab kita bersama. Dalam konteks ini telah terjadi hubungan mutualisme yaitu, pengusaha bisa mempromosikan usahanya dan penyebar bokled maupun tabloid bisa menggunakan dana yang ada untuk biaya-biaya percetakan dan sebagainya. Akan tetapi yang lebih penting yaitu tujuan kegiatan ini tercapai yaitu mencerdaskan masyarakat
PENUTUP
Simpulan
a. Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjaga kelangsungan pendidikan di Indonesia.
b. Minimnya minat baca pada masyarakat kita haruslah segera diberantas. Berkenaan dengan hal ini penulis mengusulkan beberapa cara yang dapat digunakan yaitu: peran serta orang tua, masyarakat, guru, pihak sekolah, diadakannya reformasi perpustakaan, perpustakaan maya, perpustakaan keliling, rumah baca, penyebaran bookled dan tabloid serta program e-learning.
c. Peran serta lingkungan (keluarga, masyarakat, sekolah) mempunyai andil banyak dalam penciptaan masyarakat belajar. Peran mereka dalam menciptakan suasana yang kondusif sangat diperlukan.
Saran
Setelah mengetahui beberapa langkah yang dapat menjadi alternatif pemecahan masalah masalah rendahnya minat baca, maka penulis menyarankan :
a. Kebiasaan membaca adalah kebiasaan yang baik, terlebih ketika kita sudah mempunyai budaya baca. Oleh karena itu hendaknya kita menanamkan kebiasaan baca mulai dari diri kita sendiri.
b. Masyarakat diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif sebagai peran serta mendukung penciptaan masyarakat belajar.
c. Menambah jumlah sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan membaca bagi masyarakat.
d. Pemerataan sarana belajar sampai dengan pelosok-pelosok desa, sehingga konsep setiap warga negara memperoleh hak yang sama dalam proses pembelajaran dapat tercapai.
4.3 Daftar Pustaka
Fauzi, Arif Irfan.2005. Kemampuan Memahami Makna Kata pada Anak Bilingual Usia Tujuh Tahun. Malang. (tidak dicetak).
Parsono, dkk. 1990. Landasan Kependidikan. Jakarta: Karunia
Sutarno. N.S. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suryosubroto, 1983. Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: PT Bina Aksara.
Sardiman, (tanpa tahun). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.
Slamet. 2005. Wawasan Kebangsaan dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R, 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Tilaar, H.A.R, 1997. Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi: Visi, Misi dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo).
Tim Dosen FIP-IKIP Malang, 1998. Pengantar Dasar-dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Nurkolis. 2002.Reformasi Kebijakan Pendidikan Luar Biasa. http://www.artikel pendidikan/network (diakses 29 Januari 2006).
Rahardjo, Arlinah I.(tanpa tahun) Proyek Jaringan Virtual Perpustakaan Universitas Kristen di Indonesia: InCU-VL. http://www.virtual-library.org (diakses 29 Januari 2006).
Sulistyowati.2004.KBK dan Minat Baca. http://www.pikiran rakyat.com (diakses 29 Januari 2006).
Editor). 2004. Televisi dan Pendidikan. http://www.pendidikan.tv/index.html. (diakses 29 Januari 2006).
SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MINAT BACA
BAGI MASYARAKAT
Arif Irfan Fauzi
ABSTRAK
Untuk mewujudkan dan menyukseskan serta melaksanakan visi dan misi pembangunan nasional, maka diperluhkan adanya SDM yang berkualitas yaitu manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat, yang berpotensi untuk mengelolah kekayaan alam bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia. Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas dibutuhkan adanya upaya penciptaan suasana masyarakat belajar. Penciptaan suasana masyarakat belajar yang kondusif sangat mempengaruhi pelaksanaan dan perwujudan visi dan misi pembangunan nasional.
Upaya penciptaan masyarakat belajar adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari orangtua, masyarakat, guru, pihak sekolah dan sebagainya. Untuk mendukung upaya tersebut perlu penulis mengusulkan diadakannya reformasi perpustakaan, perpustakaan maya, perpustakaan keliling, rumah baca, penyebaran bookled dan tabloid serta program e-learning. Sebenarnya masih ada usaha lain yang bisa mendukung penciptaan masyarakat belajar akan tetapi karena keterbatasan peneliti maka hal itu tidak peneliti uraikan.
Peran SDM yang handal dalam menyukseskan pembangunan nasional sangatlah besar sekali. Mereka yang menguasai ilmu dapat dipastikan akan menjadi aset yang diharapkan bisa meningkatkan daya saing bangsa.
Kata kunci : masyarakat belajar, pembelajaran, ilmu pengetahuan, daya saing bangsa.
PENDAHULUAN
Arus globalisasi yang melanda dunia, memaksa masyarakat untuk bersaing antara satu dengan yang lainnya. Persaingan ini menuntut adanya potensi dalam diri masing-masing individu yang berpartisipasi dalam era globalisasi.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya ikut terseret dalam era pasar bebas. Kekayaan alam yang melimpah merupakan nilai tambah bagi Indonesia dalam upaya menyukseskan pembangunan nasional dan berperan dalam persaingan kelas dunia. Namun, kekayaan alam yang melimpah tanpa adanya kualitas sumber daya manusia yang baik belum cukup bagi upaya dalam penciptaan pembangunan berkelanjutan dan mengantarkan Indonesia dalam persaingan dunia. Oleh karena itu, masyarakat dituntut agar mampu menghadapi persaingan yang makin kompetitif, baik di dalam maupun di luar. Salah satu cara untuk mengantisipasi persaingan yang makin kompetitif tersebut adalah melalui peningkatan kualitas SDM yang komprehensif.
Salah satu penyebab rendahnya SDM di negara kita adalah kurangnya minat belajar masyarakat. Awal masuknya ilmu pengetahuan adalah dengan membaca, oleh karena itu penumbuhkembangan kegiatan membaca perlu digalakkan. Ketika masyarakat kita sudah jauh dari budaya belajar dapat dipastikan kebodohan akan semakin meluas.
Dalam sebuah penelitian berkenaan dengan pemahaman makna kata, masyarakat kita mengidentifikasi belajar sebagai kegiatan membaca, menulis dan berhitung (Fauzi, 2005). Selanjutnya, dalam penelitian tersebut juga diutarakan tentang aspek-aspek yang menyebabkan kurangnya minat belajar oleh masyarakat. Hasilnya ditemukan empat aspek yaitu, (1) kurangnya kesadaran pentingnya belajar, (2) keterbatasan dana sehingga tidak bisa mencari sumber belajar, (3) keterbatasan waktu –ada pekerjaan yang lebih diprioritaskan, (4) suasana yang kurang kondusif, dan (5) kurangnya sarana belajar.
Melalui tulisan ini, penulis memberikan usulan-usulan yang bisa digunakan untuk meningkatkan minat baca, bukan hanya di kalangan pelajar dan mahasiswa akan tetapi juga diperuntukkan bagi masyarakat pasca sekolah. Ini sesuai dengan konsep long live education yang telah dicanagkan tetapi masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya.
Penulis mengusulkan penciptaan masyarakat belajar dimulai dari lingkungan si belajar (keluarga, sekolah, dan masyarakat), selain itu perlu dikembangkan sarana-sarana yang mendukung kegiatan pembelajaran seperti perpustakaan digital, perpustakaan keliling, rumah baca, penyebaran informasi melalui bookled dan tabloid, serta pembelajaran melalui media elektronik (e-learning).
Tulisan ini diharapkan menjadi sumbangsih penulis dalam rangka upaya mewujudkan masyarakat belajar dan membelajarkan masyarakat yang pada akhirnya tumbuh budaya baca di masyarakat. Hal ini tentunya akan berpengaruh baik terhadap peningkatan mutu sumber daya manusia di Indonesia.
Redevinisi Pendidikan Nasional
Di dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan tujuan terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu upaya mencerdaskan kehidyupan bangsa adalah melaluyi proses pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga seseorang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan (Muhibbin, 2003:10).
Notonagoro (dalam Parsono,1990:1-39) mendefinisikan pendidikan nasional sebagai suatu sistem pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup suatu bangsa dan tujuannya bersifat mengabdi kepada kepentingan dan cita-cita nasional bangsa tersebut.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan nasional merupakan teori dan praktek pendidikan suatu negara yang berlandaskan filsafat bangsa guna diabdikan kepada bangsa dan negara yang bersangkutan untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya.
Tilaar (2000:20) berpendapat dalam rangka meredefinisi pendidikan nasional ada tiga hal yang perlu dikaji kembali yaitu: (1) pendidikan tidak dapat dibatasi hanya schooling, (2) pendidikan bukan hanya mengembangkan potensi intelegensi akademik, dan (3) pendidikan bertujuan membuat manusia berbudaya. Dari pendapat tersebut maka dapat dikatakan bahwa proses pendidikan dapat dirumuskan sebagai proses hominisasi dan humanisasi seseorang yang berlangsung di dalam lingkungan hidup keluarga dan masyarakat yang berbudaya.
Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional adalah membangun kualitas manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu dapat meningkatkan kebudayaan dengan-Nya, sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila mempunyai semangat dan kesadaran yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur, dan berkepribadian yang kuat, cerdas, trampil, dapat mengembangkan dan menyuburkan sikap demokrasi, dapat memelihara hubungan yang baik antara sesama manusia dan dengan lingkungannya, sehat jasmani, mampu mengembangkan daya estetik, berkesanggupan untuk membangun diri dan masyarakatnya (Suryosubroto, 1983: 18-20).
Dalam setiap aktifitas manusia, baik disadari maupun tidak, baik langsung maupun tidak langsung terjadi suatu proses belajar-mengajar. Cronbach dalam Sardiman (1995: 22), memberikan definisi belajar sebagai berikut “learning is shown by a change in behaviour as a result of experience.”
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pendidikan
Hak dan kewajiban warga negara, orangtua, masyarakat dan pemerintah dalam rangka menyukseskan pendidikan tertuang dalam bab IV undang-undang nomor 20 tahun 2003. Dalam pasal 5 ayat 1 disebutkan bahwa, “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan (Undang-undang Sisdiknas).” Ini berarti tidak ada penghalang bagi setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan diperuntukkan bagi siapa saja, tidak mengenal jenis kelamin, usia, maupun status sosial.
Selanjutnya dalam pasal 6 ayat 2 berbunyi “Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan (Undang-Undang Sisdiknas).” Pada pasal ini tertuang kewajiban warga negara dalam keberlangsungan pendidikan. Masih di bab yang sama, dalam pasal 7 disebutkan berkenaan dengan hak dan kewajiban orangtua terhadap pendidikan khususnya anak mereka yang dalam usia wajib belajar.
Terkait dengan peran serta masyarakat dalam pendidikan telah diatur dalam bab XV pasal 54 ayat 1 yang berbunyi “Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraaan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan (Undang-Undang Sisdiknas).”
Tilaar (1997:237-240) membatasi ciri-ciri masyarakat yang berpartisipasi (Participating Society) dalam pendidikan sebatas masyarakat yang produktif, sadar akan hak-hak dan kewajibannya, sadar hukum dan bertekad untuk mandiri. Lebih jauh lagi, ia menjabarkan karakteristik participating society adalah (1) masyarakat yang kritis, (2) mampu berdiri sendiri, (3) masyarakat yang mau berkarya.
Peran serta masyarakat yang lebih kongkrit dalam pendidikan disebutkan dalam pasal 55 ayat 1 yang berbunyi “Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya untuk kepentingan masyarakat (Undang-Undang Sisdiknas).” Berkenaan dengan teknisnya disebutkan dalam ayat 2, 3, dan 4.
Minat dan Budaya Baca
Minat baca dapat diartikan kecenderungan hati yang tinggi seseorang terhadap sesuatu sumberbacaan tertentu. Sedangkan budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan (Sutarno, 2003:19).
Pendorong bangkitnya minat baca ialah kemampuan membaca, dan pendorong bagi berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan baca yang baik, menarik, memadahi, baik jenis, jumlah maupun mutunya(Sutarno, 2003:20).
Terdapat lima faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) Rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan, dan rasa informasi, (2) keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam artian tersedianya bahan baca yang menarik, berkualitas, dan beragam, (3) keadaan lingkungan sosial yang kondusif, maksudnya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca, (4) rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang aktual, (5) berprinsip bahwa membaca adalah suatu kebutuhan rohani. (Sutarno, 2003).
Perpustakaan Modern
Perpustakaan sekolah hendaknya menyediakan buku-buku yang dibutuhkan/diminati siswa sesuai dengan gejolak/perkembangan jiwa remaja, asal isi buku-buku tersebut mendidik. Josette Frank berpendapat anak-anak biasanya lebih senang membaca dari suatu buku yang telah membuatnya bahagia (Sulistyowati, http://www.pikiran rakyat.com).
Seiring dengan perkembangan informasi maka bentuk-bentuk informasi tidak hanya terbatas pada tulisan dalam buku, akan tetapi bisa berupa gambar, animasi, audio, bahkan video. Dalam menyiasati hal tersebut dibutuhkan suatu media penyimpanan yang lebih cepat seperti kaset, video film, slide dan sebagainya. Penggunaan media baru ini dikarenakan efisiensi dan kemudahan dalam pencarian kembali informasi yang telah diakses.
Konsep kepemilikan informasi yang tadinya ditekankan pada penyediaan gedung serta koleksi selengkap mungkin, tak lagi mungkin untuk dipenuhi, padahal informasi memang tersedia, terus berkembang dan dibutuhkan bagi pembentukan masyarakat belajar (Rahardjo, http://www.virtual-library.org). Di sisi yang lain, masalah melimpahnya informasi, kompleksitas dalam penggunaan teknologi informasi, media informasi serta alat penelusuran mau tak mau juga menuntut perpustakaan untuk menjalankan peran lebih sebagai pilot atau penunjuk jalan.
Metodologi Penulisan
Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif diartikan sebagai metode yang mendeskripsikan makna dan data yang ditangkap oleh penulis dengan menunjukkan buktinya. Metode ini juga dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
sebagaimana adanya.
Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif ini, diharapkan karya tulis ini memperoleh hasil analisis yang berupa deskriptif objektif tentang penciptaan masyarakat belajar.
PEMBAHASAN
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Semua golongan masyarakat memiliki kesamaan hak untuk mendapatkan pendidikan. Tidak perduli dari strata rendah maupun tinggi, tidak ada penggolongan gender, maupun usia. Kesempatan untuk belajar yang ada hendaknya dimanfaatkan oleh setiap orang, agar mendapatkan hasil yang maksimal. Untuk itu perlu diciptakan suasana-suasana yang mendukung proses pembelajaran tersebut.
Maraknya pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi merupakan indikasi bahwa adanya peningkatan dalam hal pelayanan pendidikan.. Konsekuensi logis yang diemban oleh masyarakat adalah mereka dipaksa untuk mendukung penciptaan masyarakat belajar bahkan juga terlibat di dalamnya secara aktif. Pandangan masyarakat tentang cara mendapatkan ilmu haruslah diubah. Ilmu tidak hanya didapat melalui pendidikan formal melainkan juga melalui pendidikan nonformal. Jadi tidak hanya mereka yang bersekolah yang perlu belajar, tetapi semua golongan masyarakat. Tentu dengan porsi dan cara yang berbeda. Minimal mereka bisa mendukung kegiatan belajar.
Sarana belajar yang ada dalam proses pembelajaran perlu di optimalkan penggunaannya. Tidak hanya diperuntukkan kepada mereka yang duduk di bangku sekolah tetapi juga kepada masyarakat luas. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu adalah hajat hidup orang banyak, maka setiap orang berhak mendapat perlakuan yang sama untuk mendapatkan ilmu.
Peran Serta Orang tua, Guru, dan Masyarakat dalam Penciptaan Masyarakat Belajar
Semua warga negara Indonesia bertanggung jawab terhadap program penciptaan masyarakat belajar. Maksudnya setiap orang memiliki beban dan tanggung jawab yang sama guna menciptakan masyarakat belajar. Yang membedakan adalah porsinya, sesuai dengan kedudukan kita dalam masyarakat.
Begitu pentingnya perilaku belajar bagi keberlangsungan bangsa ini menyebabkan semua orang bertanggung jawab atasnya. Sebagai bagian dari negara ini, kita dituntut untuk mendukung suksesnya kegiatan belajar, minimal dengan cara mendukung penciptaan suasana belajar.
Untuk menumbuhkembangkan minat baca siswa, peran orang tua, guru, sekolah, masyarakat, pemerintah sangat dibutuhkan Orang tua dapat menjadi contoh di rumah dengan membiasakan membaca apa saja (koran, majalah, tabloid, buku, dan sebagainya.) menyediakan bahan-bahan bacaan yang menarik dan mendidik atau dengan membuat perpustakaan mini di rumah, mengajak anak berkunjung ke pameran buku sesering mungkin, memasukkan anaknya ke lembaga kajian keilmuan, les maupun menjadi anggota perpustakaan.
Orang tua juga dianjurkan menjadwal aktifitas anak sehari-hari. Pada saat anak belajar, maka orang tua dianjurkan menemani atau minimal mendukungnya dengan tidak mengganggu. Misalnya tidak menyalakan televisi maupun melakukan aktifitas yang dapat memalingkan anak dari kegiatan belajar. Apabila diperlukan orang tua bisa mengajak anaknya diskusi tentang topik yang dipelajari anak.
Guru dapat mengajak siswa untuk membaca/ menelaah buku-buku yang menarik di perpustakaan, dan memberi tugas yang sumbernya dicari di perpustakaan. Guru dapat pula mewajibkan siswa membaca satu buah buku setiap minggu, dan orangtua wajib menandatangani laporannya. Perlu dicatat bahwa teori yang mengatakan guru adalah satu-satunya sumber ilmu sudah tidak berlaku lagi. Sekarang guru lebih berfungsi sebagai kompas bagi anak untuk mendapatkan ilmu. Guru bisa menugaskan siswa mencari sesuatu pengetahuan bebas dimana saja bisa di perpustakaan, taman baca, televisi, wawancara dengan orang yang berkompeten dan sebagainya. Intinya guru berusaha agar anak didik mereka bisa memanfaatkan media-media yang ada dalam angka pengembangan potensi yang ada di dalam diri mereka.
Masyarakat pun dapat berperan aktif menumbuhkan minat baca dengan mendirikan klub/ forum membaca, seperti rumah baca, pondok baca, sanggar belajar, dan sebagainya. Bahkan untuk menunjukkan kenyamanan dan kenikmatan dalam membaca buku, bisa juga menyediakan buku di tempat-tempat umum seperti kafe, stasiun, terminal dan sebagainya. Ini adalah implementasi Bab XV pasal 54 Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 yang berisi tentang partisipasi masyarakat dalam pendidikan.
Masyarat juga dapat mendukung program masyarakat belajar dengan menghormati jam belajar bagi siswa. Misal antara pukul tujuh pagi sampai pukul satu siang dan pukul enam sore sampai pukul delapan malam, masyarakat menciptakan suasana yang kondusif untuk memudahkan para siswa menyerap ilmu. Tidak menciptakan kegaduhan, atau membuat kegiatan yang bisa memalingkan anak dari aktifitas belajar.
Sekolah dapat menumbuhkan minat baca siswa dengan menjadikan perpustakaan bersifat aktif dan kondusif. Perpustakaan sekolah dapat mengadakan klab baca, hari baca, wajib baca, jam baca dalam satu minggu, promosi, iklan, resensi buku, telling story, lomba (membuat cerpen, puisi, resensi buku, dan sebagainya).
Untuk merangsang siswa agar rajin mengunjungi perpustakaan dan meminjam buku, perpustakaan sekolah dapat pula memberikan semacam penghargaan atau hadiah kepada pengunjung/peminjam buku paling rajin yang diadakan tiap semester atau tiap tahun (Sulistyowati, http://www.pikiran rakyat.com).
Inti permasalahan dalam penciptaan masyarakat belajar adalah terletak pada kesadaran pada masing-masing individu. Apabila mereka menyadari betapa pentingnya belajar terhadap intelegensi siswa maka dengan sendirinya mereka akan ikut proaktif dalam penciptaan masyarakat belajar.
Efektifitas Reformasi Perpustakaan dalam Penciptaan Masyarakat Belajar
Perpustakaan konfensional yang ada sekarang hendaknya perlu mengaktualisasikan diri agar tidak kehilangan pengunjung. Mereka harus mampu menjawab kebutuhan pembaca akan buku. Oleh karena itu perpustakaan selain memuat buku-buku pelajaran, juga hendaknya memuat buku-buku yang digemari siswa (remaja) masa kini. Selain itu untuk meningkatkan kenyamanan membaca dan agar siswa betah di perpustakaan, perpustakaan boleh memperdengarkan musik yang lembut.
Peran pustakawan sekolah berbeda dengan pustakawan umum. Pustakawan sekolah hendaknya memiliki wawasan kependidikan, yaitu dalam mengelola perpustakaan lebih diarahkan kepada fungsi kependidikan. Pustakawan sekolah tidak hanya mengerjakan tugas "standar" seperti akuisisi, klasifikasi, membuat katalog/kartu indeks, labeling, tetapi juga dapat memahami keinginan pengunjung atau mengerti psikologi siswa.
Perpustakaan sekolah hendaknya menyediakan buku-buku yang dibutuhkan/ diminati siswa sesuai dengan gejolak/ perkembangan jiwa remaja, asal isi buku-buku tersebut mendidik. Josette Frank dalam Sulistyowati berpendapat anak-anak biasanya lebih senang membaca dari suatu buku yang telah membuatnya bahagia (Sulistyowati, http://www.pikiran rakyat.com).
Ketika minat membaca, yang dimulai pada usia muda, diharapkan dapat berkembang menjadi suatu kebutuhan (kesenangan) sehingga akan terbentuk siswa yang berkualitas dan berdaya saing atau berkompeten. Kemudahan mendapatkan beragam buku kini bukan lagi menjadi persoalan. Beragam komponen industri perbukuan, mulai dari penerbit, distribusi, hingga para penjual telah terbentuk sedemikian rupa hingga memudahkan konsumen mendapatkan semua keinginannya.
Perpustakaan Digital
Konsep kepemilikan informasi yang tadinya ditekankan pada penyediaan gedung serta koleksi selengkap mungkin, tak lagi mungkin untuk dipenuhi, padahal informasi memang tersedia, terus berkembang dan dibutuhkan bagi pembentukan masyarakat belajar (Rahardjo, http://www.virtual-library.org). Di sinilah perpustakaan mulai dituntut untuk menjalankan peranan sebagai mediator informasi. Akses ke informasi seluas mungkin dari mana saja dan kapan saja menjadi lebih penting dari kepemilikan.
Koleksi tak perlu tersedia di perpustakaan secara fisik, tetapi dapat diperoleh ketika dibutuhkan. Dalam peranannya sebagai mediator ini, perpustakaan dituntut untuk menyediakan hubungan-hubungan dengan para ahli ataupun pusat-pusat informasi dengan cara mencari, mengumpulkan, bekerjasama, baik secara gratis maupun berlangganan pangkalan data yang sesuai agar dapat diakses oleh pengguna dari mana saja dan kapan saja secara fleksibel. Penyediaan sarana jaringan maupun terminal komputer menjadi suatu kebutuhan dalam memberikan layanan pada suatu institusi secara fleksibel. Layanan dapat saja diberikan tanpa batasan tempat, waktu ataupun golongan pengguna, bahkan dapat diberikan secara customized.
Semakin berkembangnya teknologi informasi maupun jumlah informasi, makin berkembang pula jenis informasi maupun media untuk menyimpan informasi. Pada masa lalu masyarakat mengenal informasi yang dituangkan dan diperoleh dalam bentuk teks yang cukup tersimpan dalam bentuk/media cetakan. Seiring dengan perkembangan, informasi dalam bentuk-bentuk lain seperti grafis/gambar, suara, animasi maupun video mulai dikembangkan. Informasi-informasi jenis ini tentunya memerlukan media penyimpanan lain yang lebih tepat, seperti kaset, video, film, slide dan sebagainya.
Perpustakaan Keliling
Perpustakaan keliling merupakan sebuah perpustakaan yang ditempatkan dalam sebuah kendaraan yang mendatangi pembaca atau sekedar ingin menarik minat baca. Dengan adanya perpustakaan keliling, ibu-ibu yang sedang tidak berkegiatan di rumah bisa sejenak keluar dan membaca buku-buku yang mereka sukai. Bisa berupa resep masakan, majalah wanita, koran, atau bahkan buku-buku ilmu pengetahuan umum. Pasar dari perpustakaan keliling sebenarnya tidak terbatas pada kaum ibu saja, tetapi lebih luas kepada masyarakat luas yang tidak mempunyai waktu berkunjung ke perpustakaan.
Bisa juga perpustakaan keliling mendatangi objek-objek wisata, alun-alun, maupun tempat umum lainnya. Intinya tujuan diadakan perpustakaan keliling ini adalah, dimanapun seseorang itu singgah maka disitu ada buku. Diharapkan dengan kemudahan akses mendapatkan bacaan maka minat baca masyarakat dapat bertambah. Mereka tidak usah repot-repot membeli buku, tinggal datang ke perpustakaan ini, mendaftar lalu bisa membaca buku yang disediakan.
Pengaturan dan penjadwalan perpustakaan keliling dapat diatur sesuaidengan kondisi dan situasi masyarakat setempat. Dalam hal ini penulis mempunyai gagasan bahwa tidak setiap hari perpustakaan keliling singgah di tempat yang sama. Akan tetapi perlu adanya penjadwalan, maksudnya pada tanggal sekian dan sekian maka perpustakaan ini akan berada di alun-alun, tanggal berikutnya akan berada di jalan ”A” dan seterusnya.
Pada perpustakaan keliling, tentu saja pembaca tidak bisa membawa pulang buku-buku yang mereka pinjam. Buku-buku tersebut hanya bisa di baca di tempat. Untuk itu pengelola haruslah cerdik, maksudnya bisa memikirkan bagaimana pembaca bisa membaca dengan nyaman. Mereka bisa membawa beberapa kursi, meja, karpet, atau apa saja yang bisa mempernyaman pembaca.
Dikarenakan waktu yang terbatas, baik dari pembaca maupun dari perpustakaan itu sendiri, maka bisa jadi pembaca belum puas dalam membaca akan tetapi mereka harus kembali beraktifitas atau perpustakaannya sudah akan ditutup. Untuk menyiasatinya maka pengurus perpustakaan dapat memberitahukan kepada pembaca bahwa mereka bisa membaca atau bahkan meminjam buku tersebut ke perpustakaan umum yang ditunjuk. Perpustakaan umum yang dimaksud bisa berupa perpustakaan kota, perpustakaan pribadi, perpustakaan sekolah, maupun perpustakaan penyelenggara program perpustakaan keliling ini. Sehingga bisa dikatakan bahwa dengan adanya perpustakaan keliling bisa menggiring pembaca ke perpustakaan konvensional yaitu dengan menumbuhkan perasaan suspence dan foreshedoing (pembayangan bacaan selanjutnya dan bertanya-tanya kelanjutannya) kepada pembaca.
Adanya perpustakaan keliling memang diperuntukkan bagi mereka masyarakat golongan bawah, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang berasal dari strata menengah bahkan atas. Fungsi pokok dari perustakaan keliling ini adalah memasyarakatkan buku sebagai upaya peningkatan minat baca masyarakat guna menciptakan suasana masyarakat belajar. Selain itu, bisa digunakan sebagai promosi buku di perpustakaan umum.
Virtual Library (Perpustakaan Maya)
Perpustakaan Maya merupakan sebuah perpustakaan atau suatu jaringan dari beberapa perpustakaan yang menghubungkan sumber informasi dan layanan dengan pengguna serta memberikan kesempatan untuk dapat diakses dari mana saja dan oleh siapa saja. Koleksi, layanan maupun pengguna dapat saja tersebar atau terpisah oleh jarak dan waktu, namun tetap dapat terhubung satu sama lain dengan memanfaatkan jaringan antar perpustakaan dan teknologi informasi .
Melalui pembentukan jaringan Perpustakaan Maya, perpustakaan dapat menyediakan akses informasi yang lebih luas dan terbuka dalam hal jenis, bentuk dan jangkauan layanan serta hubungan yang lebih cepat antar perpustakaan anggota jaringan, antara jasa layanan sumber informasi dengan jaringan informasi global yang ada. Dengan adanya jaringan ini perpustakaan dapat menawarkan layanan informasi dalam bentuk yang baru dan inovatif, mengurangi biaya penulusuran serta penyebaran informasi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan produktivitas dari jasa layanan informasi perpustakaan itu sendiri.
Faktor yang mendorong berkembangnya jenis media penyimpanan informasi adalah efisiensi dan kemudahan dalam pencariannya kembali. Informasi atau publikasi, baik dalam bentuk teks, gambar, suara atau bahkan gabungan dari berbagai informasi (multimedia) mulai disimpan dalam bentuk digital seperti CD-Rom ataupun web di internet. Selain istilah-istilah di atas, istilah lain yang banyak dipakai adalah Bookless Library yang menunjuk kepada perpustakaan yang memiliki koleksi mayoritas dalam bentuk digital/elektronik (Rahardjo, http://www.virtual-library.org).
Di lain pihak, dari beberapa definisi, istilah Bahasa Inggris "Virtual" mempunyai arti tak nyata, maya atau ilusi tetapi merupakan representasi dari sesuatu yang nyata, atau dapat juga diartikan sebagai sesuatu kondisi yang tanpa kendala dan batas .
Dengan dimanfaatkannya teknologi informasi baik dalam bidang komputer, telekomunikasi maupun internet, baik dalam pengelolaan kegiatan, penyimpanan koleksi maupun penyajian layanan, dapat saja sebuah perpustakaan tidak harus dibatasi oleh adanya sebuah bangunan yang harus didatangi secara fisik layanan informasi dapat tetap diberikan dalam bentuk apa saja, kapan saja dan di mana saja melalui sarana teknologi informasi. Bentuk perpustakaan seperti inilah yang disebut sebagai Virtual Library atau Perpustakaan Maya yang tetap ada walau tidak nampak secara fisik. Dalam hal ini tidak nampak pula apakah perpustakaan terdiri dari satu perpustakaan atau gabungan dari beberapa perpustakaan.
Peran Rumah Baca sebagai Media Pembelajaran bagi Masyarakat
Perlahan tapi pasti minat baca-tulis masyarakat Indonesia sudah mulai tumbuh. Sayangnya, pertumbuhan baca-tulis itu tak didukung akses dan fasilitas untuk memperlancar aktifitas tersebut. Tak heran, bila hingga saat ini jarak antara masyarakat terutama kelas bawah dengan ilmu pengetahuan masih sangat jauh.
Kebutuhan ilmu pengetahuan seseorang tidak hanya terbatas ketika mereka bersekolah. Saat bermain, bepergian, makan malam di kafe dan sebagainya terkadang muncul keinginan untuk mengetahui sesuatu. Oleh karena itu keberadaan rumah baca perlu ditumbuhkembangkan. Masyarakat bisa mendapatkan hal baru yang tidak diduga-duga sebelumnya. Kesenangan mereka akan lebih memotifasi untuk lebih banyak membaca, banyak belajar, dan banyak mencari ilmu pengetahuan. Buku yang dimaksud tentunya bukanlah ilmu pengetahuan murni yang berisi teori-teori yang menmbutuhkan banyak pemikiran, akan tetapi yang sudah dibungkus dengan humor, permainan, tips dan sebagainya.
Selain itu keberadaan taman baca akan membantu masyarakat strata bawah karena mereka bisa mendapatkan informasi, pengetahuan, dan sebagainya dengan cara yang murah, bahkan gratis. Untuk pergi ke toko buku ataupun meminjam buku di perpustakaan mereka enggan sebab tidak adanya anggaran yang mencukupi untuk membeli buku atau waktu mereka yang hanya digunakan untuk bekerja. Akan tetapi dengan keberadaan taman baca tentu mereka tidak usah berpikir panjang untuk mendapat sesuatu yang berharga. Seorang tukang becak misalnya sambul menunggu penumpang ia bisa meminjam buku ke taman baca. Seperti kita ketahui bersama bahwa kesempatan mendapatkan ilmu bukan hanya hak orang mampu saja, akan tetapi hak semua warga negara tanpa terkecuali.
Komposisi taman baca bukan hanya berupa buku-buku, kamus, dan sebagainya. Sebenarnya bila kita membicarakan isi dari taman baca sangatlah tergantung dari pasar yang akan kita sentuh. Ketika kebutuhan mereka berupa masalah perekonomian maka buku-buku yang berkenaan dengan ekonomi harus kita maksimalkan. Ketika mereka menyukai humor maka ilmu pengetahuan perlu kita bungkus dengan humor-humor segar. Hal ini bukan berarti buku-buku lain dinafikan, buku-buku yang kurang diminati perlu kita pajang sebagai pelengkap galeri. Boleh jadi ketika mereka sudah bosan dengan suatu topik akan mencoba mengalihkan ke topic lain. Atau mungkin ada pengunjung yang bukan dari golongan masyarakat setempat.
Intinya sebisa mungkin buku-buku yang ada lengkap, berisi ilmu pengetahuan yang dibungkus dengan gaya bahasa human interest, dan tidak menjemukan. Ini akan menimbulkan harapan meningkatnya minat baca di kalangan masyarakat strata bawah yang akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia mereka.
Pengaruh Penyebaran Bukled dan Tabloid terhadap Peningkatan Minat Baca Masyarakat
Penyebaran bokled dan tabloid dapat dilakukan oleh siapa saja asal diikuti rasa tanggung jawab. Ini bisa berisi pengetahuan ringan, tips, info aktual, dan sebagainya. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat golongan bawah yang tentu kesulitan memperoleh informasi. Kesan edukatif haruslah diutamakan, memang tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat berkenaan dengan issu aktual yang terjadi, bagaimana menyikapinya, dan apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi hal tesebut. Akan tetapi perlu diingat, dalam tulisan yang ada hendaknya perlu dihindari kesan profokatif sehigga akan menimbulkan gejolak di masyarakat.
Bokled dan tabloid diberikan secara cuma-cuma, oleh karena itu sangat memungkinkan memasang beberapa sponsor sebagai penyokong pendanaan. Melalui hal ini berarti kita melibatkan kalangan pengusaha dalam mensukseskan program masyarakat belajar. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pendidikan merupakan tanggug jawab kita bersama. Dalam konteks ini telah terjadi hubungan mutualisme yaitu, pengusaha bisa mempromosikan usahanya dan penyebar bokled maupun tabloid bisa menggunakan dana yang ada untuk biaya-biaya percetakan dan sebagainya. Akan tetapi yang lebih penting yaitu tujuan kegiatan ini tercapai yaitu mencerdaskan masyarakat
PENUTUP
Simpulan
a. Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjaga kelangsungan pendidikan di Indonesia.
b. Minimnya minat baca pada masyarakat kita haruslah segera diberantas. Berkenaan dengan hal ini penulis mengusulkan beberapa cara yang dapat digunakan yaitu: peran serta orang tua, masyarakat, guru, pihak sekolah, diadakannya reformasi perpustakaan, perpustakaan maya, perpustakaan keliling, rumah baca, penyebaran bookled dan tabloid serta program e-learning.
c. Peran serta lingkungan (keluarga, masyarakat, sekolah) mempunyai andil banyak dalam penciptaan masyarakat belajar. Peran mereka dalam menciptakan suasana yang kondusif sangat diperlukan.
Saran
Setelah mengetahui beberapa langkah yang dapat menjadi alternatif pemecahan masalah masalah rendahnya minat baca, maka penulis menyarankan :
a. Kebiasaan membaca adalah kebiasaan yang baik, terlebih ketika kita sudah mempunyai budaya baca. Oleh karena itu hendaknya kita menanamkan kebiasaan baca mulai dari diri kita sendiri.
b. Masyarakat diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif sebagai peran serta mendukung penciptaan masyarakat belajar.
c. Menambah jumlah sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan membaca bagi masyarakat.
d. Pemerataan sarana belajar sampai dengan pelosok-pelosok desa, sehingga konsep setiap warga negara memperoleh hak yang sama dalam proses pembelajaran dapat tercapai.
4.3 Daftar Pustaka
Fauzi, Arif Irfan.2005. Kemampuan Memahami Makna Kata pada Anak Bilingual Usia Tujuh Tahun. Malang. (tidak dicetak).
Parsono, dkk. 1990. Landasan Kependidikan. Jakarta: Karunia
Sutarno. N.S. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suryosubroto, 1983. Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: PT Bina Aksara.
Sardiman, (tanpa tahun). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.
Slamet. 2005. Wawasan Kebangsaan dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R, 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Tilaar, H.A.R, 1997. Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi: Visi, Misi dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo).
Tim Dosen FIP-IKIP Malang, 1998. Pengantar Dasar-dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Nurkolis. 2002.Reformasi Kebijakan Pendidikan Luar Biasa. http://www.artikel pendidikan/network (diakses 29 Januari 2006).
Rahardjo, Arlinah I.(tanpa tahun) Proyek Jaringan Virtual Perpustakaan Universitas Kristen di Indonesia: InCU-VL. http://www.virtual-library.org (diakses 29 Januari 2006).
Sulistyowati.2004.KBK dan Minat Baca. http://www.pikiran rakyat.com (diakses 29 Januari 2006).
Editor). 2004. Televisi dan Pendidikan. http://www.pendidikan.tv/index.html. (diakses 29 Januari 2006).
Jumat, 26 Oktober 2007
TEMA-TEMA YANG MENJEBAK
TEMA-TEMA YANG MENJEBAK
(Komparasi Antara Cerpen Cyber dan Cerpen Koran)
Oleh Arif Irfan Fauzi
(Komparasi Antara Cerpen Cyber dan Cerpen Koran)
Oleh Arif Irfan Fauzi
Tema dalam konteks kesusastraan dapat diartikan sebagai pokok ide yang mendasari suatu karya. Dalam proses penciptaan karya sastra, pengarang menjadikan tema sebagai acuan dalam berkarya. Dengan adanya tema yang terstruktur, ide pengarang yang dituangkan dalam kertas akan tetap dalam rel kebenaran dan tidak akan menyimpang.
Lebih lanjut, pengarang yang mengikuti "trend" tema pada suatu periodisasi dapat dicap sebagai sastrawan di suatu angkatan. Hal ini tentunya akan menambah gengsi bagi pengarang, sebab selain karyanya yang seide dengan pengarang lain, ia juga dapat menorehkan namanya dalam buku sejarah sastra sebagai salah satu pengarang. Pengarang juga akan memiliki "nilai jual" yang lebih dibanding dengan pengarang yang "memberontak" baik dalam hal ide atau konvensi lainnya.
Walaupun belum mendapat pengakuan secara menyeluruh dari para sastrawan, angkatan 2000 terbukti memiliki daya dobrak yang dapat menyingkirkan angkatan sebelumnya (1998). Terlepas dari polemik yang ada, angkatan ini memiliki ciri yang jauh berbeda dengan angkatan 1998.
Dalam hal tema, angkatan 2000 mengedepankan kebangkitan perempuan. Secara global, karya dalam angkatan ini seakan-akan ingin membalik posisi kaum perempuan atas laki-laki.
Media penyampai ide yang digunakan oleh para sastrawan tidak lagi terbatas pada buku, melainkan sudah merambah pada sastra cyber dan sastra koran. Sastra cyber dapat diwakili oleh "situs resmi sastra" yakni www.cybersastra.net. Adapun sastra koran sering dimuat dalam kolom budaya. Koran yang secara rutin memuat kolom ini antara lain KOMPAS dan JAWA POS group.
Kedua media ini memiliki visi dan misi yang berbeda dalam pemuatannya. Hal ini menyebabkan seringnya ketidaksamaan ide yang ada di dalam karya sastra yang dimuat. Pemertahanan konvensi angkatan 2000 pada kedua media ini selanjutnya akan dibahas lebih lanjut sebagaimana berikut.
Sastrawan Nyentrik, Tidak Dilarang
Angkatan 2000 dapat dikatakan sebagai angkatan yang menempatkan perempuan dalam posisi puncak. Berbagai upaya dilakukan oleh para sastrawan guna menyejajarkan posisi perempuan dengan posisi laki-laki, salah satunya dengan karya sastra. Pengakuan terhadap cerita-cerita yang dibuat oleh kaum hawa dan menempatkannya setara dengan karya laki-laki dengan mengindahkan hegemoni gender adalah salah satu bukti riil (Fauzi: 2007).
Dalam dunia sastra, tidak ada aturan yang mengekang kreativitas sastrawan. Konvensi-konvensi yang ada dalam dunia sastra merupakan peraturan yang tidak tertulis dan bersifat mana suka, artinya, bisa diikuti atau bisa pula ditolak. Pada masa kolonial dan orde baru ketidaktaatan pada konvensi akan berakibat fatal. Seorang sastrawan "pemberontak" akan menerima ganjaran atas perbuatan nekatnya. Kasus yang pernah ada antara lain berakibat pada (1) dilarang terbitnya suatu naskah sastra –Belenggu fersi angkatan Balai Pustaka,- (2) ditariknya karya sastra dari pasaran –kasus Pramudya,- dan (3) dipenjarakannya sastrawan –Pramudya dkk.-
Konsep di atas mulai tidak berlaku sejak runtuhnya rezim orde baru (angkatan 1998 dan angkatan 2000). Sastrawan seolah-olah menjadi liar tak terkendali tanpa batas. Namun, masih banyak pula sastrawan yang tetap setia menjaga konvensi-konvensi tak tertulis tersebut. Hal ini berakibat seakan-akan munculnya dualisme sastrawan yakni sastrawan yang tetap memegang teguh konvensi dan sastrawan nyentrik yang lebih memilih kebebasan dalam berkarya.
Dikotomi anatara kedua jenis sastrawan ini terefleksikan dalam karya yang dihasilkan. Tidak ada sisi negatif yang ditimbulkan, bahkan banyak ditemui sisi positif dari perbedaan ini. Baik dalam sastra cyber dan sastra koran , kedua kelompok ini sama-sama berkembang dan semakin memperkaya dunia sastra.
Dalam tulisan ini, penulis akan menganalisis tema yang diangkat oleh kedua kelompok di atas dalam di media. Penulis mengambil sampel cerpen secara random baik di www.cybersastra.net yang mewakili sastra cyber dan di koran Jawa Pos sebagai wakil sastra koran. Judul cerpen tersebut adalah "Kutukan" karya Mer Magdal (selanjutnya disebut cerpen satu) dan "Kami Ingat Markiyem" karya Mariana Amiruddin (selanjutnya ddisebut cerpen dua).
Cerpen pertama dikategorikan sebagai produk sastrawan nyentrik. Hal ini dikarenakan pengarang tidak mempedulikan kaidah-kaidah atau konvensi dalam menulis. Karya sastra ini ditulis pada bulan Mei tahun 2002. Secara periodesasi karya ini masuk dalam angkatan 2000. Unsur tema tentang kebangkitan perempuan sama sekali tidak ditemukan. Walaupun dalam cerpen terdapat tokoh perempuan (Minah), namun tidak begitu memiliki peran penting (hanya sebagai penjual nasi di warteg). Sebaliknya, tokoh utama memiliki dominasi baik dalam segi menghidupkan cerita maupun kondisi sosial ekonominya.
Ketidakikutan terhadap konvensi yang sudah ada tidak menjadikan cerpen ini sebagai "sampah." Walaupun dikatakan nyentrik, unsur sastra yang ada di dalamnya justru terlihat dengan jelas. Kreativitas penulis dalam mengolah cerita baik secara ide maupun unsur teknis lainnya menjadikan cerpen ini memiliki nilai. Kalau dikomparasikan dengan cerpen seangkatan yang bertemakan kebangkitan perempuan (cerpen kedua), maka cerpen pertama juga memiliki bargaining potition. Keberanian Magdal sebagai pengarang mendobrak tradisi justru menjadikannya sastrawan cyber yang memiliki kekhasan tersendiri.
Tema sosiokultural yang dipergunakan oleh Magdal masih menarik diperbincangkan di tengah gencarnya tema feminis. Hal ini disebabkan sampai kapanpun seseorang tidak akan pernah bisa lepas dari sosiokultural masyarakat yang ada di sekitarnya. Magdal berhasil menorehkan sebuah frame tentang realita yang ada di masyarakat dalam sebuah karya tulis fiksi imajinatif.
Sifat nyentrik Magdal dalam mengambil tema cerita yang bertentangan dengan konvensi angkatan 2000 memberikan angin segar di saat pembaca mengalami kejemuhan. Apabila semua karya pada satu angkatan memiliki tema yang sama (tanpa ada sastrawan nyentrik) maka pembaca seolah-olah akan disuguhi sesuatu yang membodohi. Kalau sampai ini terjadi, kepekaan pengarang terhadap realita yang ada di sekelilingnya (yang bersifat non feminis) tidak terasah. Pengarang akan menjadi bebal dan kehilangan idealismenya sebagai sastrawan.
Pada cerpen kedua, karya ini dikategorikan sebagai produk sastrawan konvensional. Ketaatan pengarang terhadap konvensi yang ada dapat dijadiakan alasan karya ini masuk kategori tersebut. Cerpen ini dibuat pada bulan April 2007 dan dimuat di kolom Budaya harian Jawa Pos pada tanggal 20 Mei 2007 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. Asumsi pertimbangan dimuatnya cerpen ini adalah (1) tema cerpen yang sesuai dengan periodesasi, (2) Hakitnas lebih sesuai diisi dengan cerpen bertemakan kebangkitan, (3) tidak akan menimbulkan gejolak di masyarakat.
Bila dibaca secara komprehensif, maka dari cerpen kedua dapat diambil tema "harga diri seorang mantan pelacur." Dominasi Markiyem dan Rara sebagai tokoh utama sangat mencerminkan bahwa karya ini benar-benar pro konvensi. Markiyem walaupun mantan pelacur di jaman kolonial Jepang akhirnya mampu mempertahankan harga dirinya. Ia memprotes pernyataan Pemimpin Jepang yang menyatakan tidak ada perbudakan seks di masa penjajahan. Markiyem bersama korban-korban lainnya melakukan demo walaupun usianya sudah sangat tua.
Cerpen ini sesuai dimuat di harian Jawa Pos pada saat momen Harkitnas karena mereview peristiwa yang terjadi di masa lampau. Nilai adiluhung dalam cerpen dibungkus dalam peristiwa di dalam cerita. Namun, karena terbatasnya media, banyak aspek yang seharusnya bisa lebih dieksplorasi terpotong. Walaupun demikian, tidak ditemukan sesuatu yang baru dalam cerpen ini. Secara vulgar dapat dikatakan bahwa cerpen ini hanya mengubah tokoh dan peristiwa tanpa ada sesuatu yang disuguhkan kepada pembaca. Lebih lanjut, cerpen ini dapat dikatakan hanya bermodal tema yang sama dengan angkatan 2000 untuk dapat dimuat.
Terkadang keterpakuan pengarang terhadap tema-tema konvensional justru menjebak dan mengekang kreativitas. Hal ini disebabkan karena pola pikir pengarang sudah dikotak-kotakkan, sehingga tidak bisa lagi keluar dari masalah-masalah yang sudah ada. Sebaliknya, permasalahan di luar tema konvensional semakin banyak dan menarik untuk dituangkan menjadi sebauh karya.
Melalui karyanya, pengarang kedua telah berhasil mendapat pengakuan bahwa dirinya adalah pengarang karya pada angkatan 2000. Tapi di sisi lain kualitas karyanya tidak bisa memberi nuansa baru di kancah dunia sastra. Di sinilah idealisme pengarang akan dipertanyakan? (ARIF).
KOMPARASI CERPEN CYBER 2000 (SOSIOPSIKOLOGIS)
STUDI KOMPARASI CERITA PENDEK ANGKATAN 2000
(KAJIAN SOSIOPSIKOLOGIS)
(KAJIAN SOSIOPSIKOLOGIS)
Oleh : Arif Irfan Fauzi
A. LATAR BELAKANG MASALAHSalah satu unsur yang terkandung dalam sebuah karya sastra adalah unsur kehidupan sosial-budaya serta ragam sikap pengarang terhadapnya (Aminuddin, 2004:186). Setiap pengarang memiliki pandangan berbeda terhadap realita sosial yang terdapat di sekelilingnya. Pengarang pun memiliki kekhasan dalam menyajikan sebuah fenomena kepada pembaca. Kekhasan ini tidak bisa diintervensi oleh siapapun dan dengan alasan apapun. Hak mencipta bagi pengarang bersifat tak terbatasi, sehingga ia bisa menggambarkan apapun dalam bentuk yang bagaimanapun.
Pengarang-pengarang angkatan 2000 terkenal sebagai revolusioner dalam bidang sastra. Dikatakan demikian dikarenakan perbedaan ciri yang sangat menonjol dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Angkatan ini terkenal memiliki sastrawan yang (1) bergaya bahasa fulgar --baik pengarang laki-laki maupun perempuan,-- (2) tema lebih umum dan pembahasan dalam karya lebih tajam, serta (3) kebebasan berekspresi dalam mencipta karya. Salah satu pembeda dengan angkatan-angkatan sebelumnya adalah setiap pengarang memilki kekhasan serta daya tarik tersendiri dalam setiap karya yang dihasilkan.
Ketajaman angkatan 2000 tidak hanya tampak pada novel, puisi, dan drama. Cerita pendek sebagai salah satu cabang dari novel juga memiliki ciri yang serupa. Selain cerita yang dipublikasikan dalam bentuk naskah atau kumpulan naskah, cerita pendek dalam dunia maya (cyber short story) juga memiliki penanda yang sama dengan genre sastra lain.
Terdapat banyak alat (ilmu) yang bisa digunakan untuk memberikan apresiasi terhadap gejala-gejala yang terdapat dalam karya sastra. Salah satu diantaranya adalah sosiopsikologis. Ilmu interdisipliner ini merupakan gabungan dari ilmu sosiologi dan psikologis. Ilmu sosiologi digunakan sebagai alat mengkaji bidang-bidang sosial budaya yang terdapat dalam karya sastra. Adapun gejala psikis dalap dianalisis dengan ilmu psikologi. Aminuddin (2004:186) berpendapat bahwa puisi dan prosa fiksi bisa dikaji dengan menggunakan ilmu sosiopsikologi.
Ketika mengapresiasi karya sastra, pembaca sering menemukan perbedaan cara pengungkapan pribadi tokoh oleh pengarang. Seorang pengarang laki-laki akan berbeda cara menggambarkan tokoh dengan pengarang perempuan. Dalam makalah ini, penulis mengkomparasikan antara pencitraan tokoh yang oleh pengarang laki-laki dan perempuan.
Populasi dalam tulisan ini adalah semua pengarang cerpen dan karyanya dalam angkatan 2000. Adapun sampel yang menjadi objek analisis adalah Sri Lestari dengan cerpennya berjudul Daging dan Adhyra dengan cerpennya Sang Buron.
B. RUANG LINGKUP DAN PEMBATASAN MASALAH
Berdasarkan media yang digunakan, cerita pendek dapat disampaikan dengan dua media (1) konfensional –naskah, dan (2) nonkonfensional (cyber/ virtual short story). Cara konfensional dibagi menjadi dua (1) satu naskah berisi satu cerpen, dan (2) satu naskah berisi kumpulan cerpen. Sedangkan pada cara nonkonvensional, kelaziman yang sering ditemukan adalah kumpulan cerpen dalam satu situs.
Angkatan 2000 dimulai pada awal tahun 2000, sekarang (tahun 2006) para sastrawan masih dapat digolongkan dalam angkatan tersebut. Hal ini mengacu pada sebuah ungkapan H.B. Jassin yang berpendapat adalah usia maksimal sebuah angkatan adalah sepuluh tahun. Selain itu ciri-ciri yang melekat pada karya sastra masih memiliki kemiripan.
Tinjauan sosiopsikologis adalah sebuah ilmu interdisipliner yang terdiri dari ilmu sosiologis dan psikologis. Kajian psikologi sosial mengarah pada dua ranah: (1) tinjauan secara mikro, dan (2) tinjauan secara makro. Tinjauan mikro meliputi (1) persepsi, (2) apersepsi, (3) motif/ niat, (4) motivasi, dan (5) sikap. Adapun tinjauan secara makro terdiri atas (1) konflik, (2) cinta, (3) perasaan, dan (4) agresi. Masing-masing bidang ilmu memiliki penjabaran yang sangat luas, namun penulis membatasi pada aspek psikologis yang melatarbelakangi pengarang memberikan suatu citra pada tokoh.
C. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana wujud pencitraan sosial yang diungkapkan oleh Sri Lestari dalam cerpen Daging ditinjau dari prespektif psikologis?
2. Bagaimana wujud pencitraan sosial yang diungkapkan oleh Adhyra dalam cerpen Sang Buron ditinjau dari prespektif psikologis?
3. Bagaimana komparasi terhadap pencitraan yang dilakukan oleh pengarang laki-laki dan pengarang perempuan berdasarkan tinjauan psikologis?
D. TINJAUAN PUSTAKA
Kajian sosiopsikologis memiliki alat (berupa teori) yang sangat banyak untuk menafsirkan motif seseorang dalam melakukan sesuatu. Dalam tinjauan pustaka berikut akan penulis sampaikan beberapa teori yang mendukung analisa dalam bab pembahasan.
Sosialisasi merupakan proses belajar masyarakat suatu kelompok kebudayaan tentang nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat itu (Hanurawan, 2001: 36). Penekanan pada tindak sosialisasi menurut pendapat di atas adalah proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat. Melalui sosialisasi seorang individu dapat mengembangkan cara berfikir, berperasaan dan berperilaku.
Sinonim kata sosialisasi adalah interaksi sosial. Pengertian istilah interaksi sosial yang dikemukakan oleh Bonner adalah hubungan antara dua atau lebih individu, dimana tingkah laku individu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki tingkah laku individu yang lain atau sebaliknya (Dayakisni, 2001: 66). Pengertian ini memiliki tinjauan berbeda dengan pengertian pertama. Penekanannya adalah perubahan dalam diri seseorang melalui interaksi dengan orang lain.
Terdapat beberapa bentuk dasar interaksi sosial yang merupakan pendapat dari beberpa tokoh. Apabila disimpulkan, interaksi sosial meliputi (1) imitasi, (2) sugesti, (3) identifikasi dan (4) simpati (Dayakisni, 2001: 66-68).
Dampak imitasi terhadap diri seseorang ada dua yaitu (1) dampak positif dan (2) dampak negatif. Dampak positif terjadi ketika sesuatu yang diimitasikannya adalah hal-hal yang baik. Sebaliknya dampak negatif muncul ketika sesuatu yang diimitasikannya adalah hal-hal buruk.
Gerungan membedakan definisi antar imitasi dan sugesti. Imitasi merupakan proses peniruan terhadap sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Sedangkan sugesti adalah suatu proses pemberian pandangan atau sikap dari diri seseorang terhadap orang lain di luar dirinya (Dayakisni, 2001: 67).
Teori lain berkenaan dengan psikologi sosial adalah berkenaan dengan sikap (attitude) seseorang. Secara definitif sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan bertindak untuk bereaksi terhadap rangsang (Dayakisni, 2001 : 51). Tindakan yang dihasilkan merupakan renspnsif dari stimulus yang dilakukan oleh orang lain.
Sedikitnya terdapat empat fungsi sikap. Fungsi-fungsi tersebut meliputi (1) fungsi penyesuaian diri, (2) fungsi pertahanan diri, (3) fungsi ekspresi nilai dan (4) fungsi pengetahuan (Hanurawan, 2001 : 44).
Terdapat perbedaan antar fungsi penyesuaian diri dengan fungsi pertahanan diri. Penyesuaian diri berarti orang cenderung mengembangkan sikap untuk mencapai tujuannya. Sedangkan fungsi pertahanan diri lebih mengacu pada sikap lebih melindungi seseorang dari keharusan untuk mengakui mengakui kenyataan pada dirinya.
Begitu pula dengan fungsi ekspresi nilai dengan fungsi pengetahuan yang memiliki definisi yang berbeda. Fungsi ekspresi nilai berarti bahwa sikap membantu ekspresi positif nilai-nilai dasar seseorang, memamerkan citra dan aktualisasi diri. Sedangkan fungsi pngetahuan lebih menitik beratkan pada sikap membantu seseorang dengan enerapkan standart evaluasi terhadap sesuatu hal.
Suatu serangan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, obyek lain, atau bahkan pada dirinya sendiri adalah pengertian dari agresi (Dayakisni, 2001 : 96). Agresi juga merupakan kajian dalam psikologi sosial yang akan menjadi alat memahami motif seseorang melakukan sesuatu. Wujud agresi bermacam-macam, tergantung pelaku dan keadaan jiwanya pada saat itu.
Teori terakhir yang penulis pergunakan dalam menganalisis motif pengarang terhadap tokoh adalah teori daya tarik interpersonal. Pengertian daya tarik interpersona adalah ketertarikan suatu individu pada individu lain. Ketertarikan ini diartikan secara luas, bukan hanya nafsu atau cinta saja. Adapun motif yang melatarbelakangi daya tarik interpersona adalah (1) kesamaan, (2) kedekatan, (3) keakraban, (4) daya tarik fisik, (5) kemampuan, (6) tekanan emosional, (7) munculnya perasaan atau mood positif dan (8) harga diri yang rendah.
Sedikitnya terdapat tiga syarat untuk mengkategorikan suatu tindakan sebagai perilaku agresi. Ketiga syarat tersebut adalah (1) niat pelaku –benar-benar ingin berbuat agresi, bukan karena ketidaksengajaan--, (2) terdapat keinginan bahwa dengan perilakunya dapat menimbulkan penderitaan atau kerusakan pada diri obyek atau ssaran, (3) keinginan obyek sasaran untuk tidak menghindari perilaku merugikan yang dilakukan oleh pelaku agresi (Hanurawan, 2001 : 53).
E. PEMBAHASAN
E.1 Wujud Pencitraan Sosial yang Diungkapkan oleh Sri Lestari dalam Cerpen Daging serta Tinjauan dari Prespektif Psikologis
E.1.1 Interaksi Sosial
Merujuk pada definisi yang dipaparkan oleh Dayakisni di atas, tujuan dari proses interaksi sosial adalah untuk mengubah perilaku orang lain. Dalam cerpen Daging karya Sri Lestari terdapat beberapa kutipan yang mendukung pendapat di atas.
Kutipan pertama, ketika kondisi Karti semakin memburuk dan Udin terus meminta emaknya untuk segera membawa adiknya ke dokter. Emak yang sangat mengetahui kondisi keluarga malah menyuruh Udin untuk tidur. Ia mempersuasi Udin dengan keinginan Udin sendiri (membelikan Karti soto daging). Padahal secara psikis ia tidak mau tertekan oleh ucapan-ucapan anaknya yang belum mengerti kondisi keluarga.
"Tidurlah. Jangan terus bicara kalau kau ingin membawa Karti ke dokter dan membelikannya soto daging besok."
Udin terdiam. Memandangi maknya sekejap lalu membaringkan tubuhnya di lantai tanah. Merapat ke dinding kardus yang basah. Kain sarung kumal melindungi tubuh kurusnya yang terus mengigil. Matanya berkedip-kedip. Perlahan ia mencoba memejamkan mata. Hatinya berjanji. Besok, ia harus mendapatkan uang untuk membawa Karti ke dokter dan membeli soto daging!
Perintah emak ke Udin agar cepat tidur dapat dikategorikan sebagai salah satu wujud interaksi sosial. Motif yang ingin dicapai adalah agar Udin tidak terus mendesaknya membawa Karti ke dokter. Interaksi ini berhasil, terbukti Udin mahu menuruti apa yang dikatakan emak untuk tidur.
Proses psikis yang terjadi adalah sugesti kompleks. Dikatakan demikian karena banyak unsur sugesti yang digunakan emak kepada Udin. Sugesti itu adalah (1) sugesti karena hambatan berfikir --emak memberikan alasan agar Udin mau berfikir dan ia bisa menerima alasan yang dikemukakan oleh emak,-- (2) sugesti karena pikiran terpecah --Udin sedang memikirkan banyak hal begitu pula dengan emak, akan tetapi emak lebih menguasai keadaan sehingga mampu mesugesti Udin agar mahu tidur,-- dan (3) sugesti karena otoritas –posisi emak dalam keluarga di atas Udin yang hanya sebagai anak. Kondisi-kondisi tersebut di atas mampu mempengaruhi seseorang agar menuruti keinginan pensugesti.
Kutipan kedua, proses interaksi sosial terjadi di pasar. Seorang perempuan menawar harga daging namun penjual tidak mau menurunkan dengan menggunakan alasan-alasan. Motif yang bisa dibaca adalah dengan menawar diharapkan bisa mendapatkan harga semurah mungkin. Sedangkan pembeli tidak mau menurunkan harga karena ingin mendapat untung yang berlimpah.
"Sekilo limapuluh ribu, Bu. Maklumlah BBM naik, semua harga juga naik." Hari sedang menuju senja. Gerimis masih berderai. Pasar hiruk pikuk. Semrawut. Angin lembab meruapkan bau busuk sampah yang bertumpuk. Udin menghentikan langkahnya di blok penjual daging. Berdiri mematung. Menatap seorang wanita gemuk berambut keriting yang sedang memilih daging sapi segar sambil menawar-nawar harga.
Rasionalisasi yang dilakkan oleh penjual berhasil. Pembeli tetap membeli daging yang ia jual dengan harga yang ditentukannya. Proses interaksi sosial berlangsung kompleks. Pembeli mempengaruhi penjual agar harganya turun sedangkan penjual tetap menginginkan harga yang ia tawarkan.
Dalam hal ini telah terjadi proses sugesti karena hambatan berfikir yang dimenangkan oleh penjual. Penjual mengambil alih pandangan-pandangan pembeli tentang mahalnya harga daging dengan memberikan alasan-alasan yang masuk akal. Pembeli yang dalam kondiri minim informasi bisa menerima penjelasan dari penjual dan akhirya tetap membeli daging.
Kutipan ketiga, ketika Udin melamun dan seorang perempuan meminta bantuan membawakan barang belanjaannya ke depan pasar. Udin yang mematung dihardik oleh seorang preman pasar. Ia kemudian segera membawakan barang bawaan perempuan tadi.
"Bawakan barang saya sampai depan pasar!" Udin masih mematung dengan tangan merabai saku celana ketika seorang lelaki menghardiknya. "Heh! Tuli kau!? Atau tak mau uang?" Udin hampir terjatuh di sodok lengan preman pasar yang kekar itu. Buru-buru ia menghampiri wanita gemuk berambut keriting yang tadi membeli daging.
Dalam kutipan ini, interaksi sosial terjadi antar tiga orang, perempuan yang membawa barang belanja, preman, dan Udin. Proses psikologi yang terjadi adalah sugesti disertai dengan agresi. Sugesti pertama dilakukan oleh sang perempuan dengan sugesti otoritas. Ia memiliki uang uantuk mengupah Udin. Sugesti kedua yang disertai dengan prilaku agresi dilakukan oleh preman pasar kepada Udin. Sama seperti perempuan di atas, ia melakukan sugesti otoritas yaitu mengandalkan kedudukannya sebagai "penguasa." Ia pun melakukan agresi dengan menyodok Udin.
Agresi yang dilakukan oleh perempuan dan preman pasar ke Udin membuahkan hasil. Udin membwakan barang belanjaan perempuan tadi ke depan pasar dan memperoleh upah. Hal ini didukung oleh kutipan di bawah ini.
"Ini upahmu!" Wanita gemuk berambut keriting itu mengangsurkan dua lembar uang kertas kumal seribuan pada Udin. Dua ribu rupiah? Udin mengamat-amati dua lembar uang kumal itu. Harga-harga naik begitu mahal, tapi upahnya membawakan barang-barang belanjaan tak pernah naik dari tahun ke tahun. Tetap saja dua ribu rupiah. Atau paling banyak lima ribu rupiah kalau pemilik barang yang dibawakannya penuh belas kasihan.
E.1.2 Sikap (Attitude)
Sikap yang akan dibahas pada sub bab berikut adalah tokoh-tokoh yang memiliki sikap menonjol. Jadi tidak semua tokoh yang akan dianalisis sikapnya. Tokoh-tokoh yang menjadi objek adalah Udin, emak, preman pasar, dan nyonya Maliana.
Tokoh Udin memiliki sikap tanggung jawab pada keluarga. Di saat adiknya sakit dan emaknya dalam kondisi lemah, ia menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai kuli angkut di pasar. Sebagai orang yang satu-satunya sehat dalam keluarga, didukung ia adalah anak lelaki satu-satunya, Udin memiliki rasa tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarganya. Hal ini diperparah dengan bapak Udin yang belum pulang dari penjara.
"Karti harus dibawa ke dokter, Mak."
"Kalau Bapak tak masuk penjara, pasti bisa membawa Karti ke dokter. Juga membelikan soto daging ya, Mak? Dulu, Bapak selalu pulang membawa makanan setiap hari. Aku tak percaya Bapak mencuri seperti yang dituduhkan orang-orang pasar."
...
Tanpa banyak kata Udin mengangkat tiga tas belanjaan di depannya. Urat-urat di kedua tangannya yang kurus langsung bertonjolan keluar karena beban berat yang sangat. Namun Udin tak perduli.
Harga-harga naik begitu mahal, tapi upahnya membawakan barang-barang belanjaan tak pernah naik dari tahun ke tahun. Tetap saja dua ribu rupiah. Atau paling banyak lima ribu rupiah kalau pemilik barang yang dibawakannya penuh belas kasihan.
...
Selain beberapa sikap di atas, Udin memiliki kemauan untuk menepati janji. Udin telah berjanji pada adiknya, Karti, untuk memberikan soto daging dan membawa berobat ke dokter. Ketika Udin belum bisa menepati janji, ia merasa bersalah, namun ketika janjinya terlunasi ia merasa bahagia.
Limapuluh ribu? Meski tak tamat sekolah dasar, Udin mengerti jumlah itu tidak sedikit. Ia meraba saku celana pendeknya. Beberapa uang receh sisa membeli nasi bungkus kemarin masih di sana. "Ah, mana mungkin membeli daging dengan uang receh ini?" keluh hatinya. Sedangkan hari ini belum ada seorang pun membeli tas kresek hitamnya atau memintanya membawakan barang-barang belanjaan.
Karti sakit. Demamnya tak juga mereda meski sudah diberi obat toko. Bagaimana caranya membawa Karti ke dokter? Berapa harga periksa dan obat dokter sekarang ini? Berpikir tentang beras, minyak dan garam saja sudah kelimpungan. Beban bertumpuk. BBM naik lagi. Harga-harga menggila. Anak laki-lakinya yang beranjak sebelas tahun, Udin, tak selalu pulang membawa uang dari pekerjaannya menjual plastik kresek hitam dan membawakan barang-barang belanjaan ibu-ibu di pasar.
....
Maka, sore itu satu janji Udin telah lunas. Membelikan soto daging untuk adiknya. Tinggal satu janji lagi. Membawa Karti ke dokter. "Ah, semoga Karti cepat sembuh dan tak perlu ke dokter," bisiknya lirih sambil merebahkan tubuh di lantai tanah.
Menurut Bimo Walgito dalam Dayakisni (2001), terdapat dua faktor yang membentuk dan mengubah sikap seseorang. Kedua faktor tersebut adalah (1) faktor internal –kemampuan untuk menyeleksi permasalahan--, dan (2) faktor eksternal –keadaan di luar individu untuk membentuk atau mengubah sikap--.
Sikap yang ditunjukkan Udin dalam cerpen Daging kebanyakan dipengaruhi faktor eksternal. Kekejaman dunia telah membuat Udin semakin cepat dewasa. Anak seusianya yang seharusnya masih duduk dibangku sekolah "dipaksa" untuk bekerja demi menghadapi kehidupan. Hal inilah yang secara perlahan tetapi pasti mengubah sikap Udin.
Tokoh kedua yang akan dibahas perwatakannya adalah emak. Emak adalah pribadi yang tertup. Ia enggan membicarakan masalah keluarga pada anak-anaknya. Udin dan Karti dianggap belum cukup dewasa untuk mengerti permasalaha kehidupan.
"Tidurlah. Jangan terus bicara kalau kau ingin membawa Karti ke dokter dan membelikannya soto daging besok."
Namun demikian tokoh emak adalah seseorang yang lebih mengutamakan kepentingan keluarga daripada keinginan pribadi. Ia sebenarnya tidak ingin anak-anaknya menderita, oleh karena itu segala kepahitan hidup ia hadapi sendiri. Ketika Udin mendapatkan daging dan selesai dimask, maka ia mendahulukan anak-anaknya untuk makan. Sedangkan dirinya sendiri yang sudah tiga hari belum makan malah tidak dihiraukan.
Perih dilambungnya sendiri tak diperdulikan. Perutnya dijerat tali setagen agar laparnya tak menjadi-jadi. Sudah tiga hari ia tak pergi memulung.
"Udin, makanlah. Kau pasti sudah sangat lapar, "ujar Mak sambil menenteng panci penyok berisi soto daging ke dalam rumah. "Mak akan menyuapi Karti. Siapa tahu dia langsung sembuh."
Mednick, Higgins, dan Kircshenbaum dalam Dayakisni (2001: 53) menyebutkan bahwa pembentukan sikap seseorang dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yaitu : (1) pengaruh sosial, (2) karakter kepribadian individu, dan (3) informasi yang selama ini diterima oleh individu. Yang paling menonjol dari sifat emak bila disesuaikan dengan teori di atas adalah berkenaan dengan kepribadian individu. Emak adalah orang yang kurang bisa bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Hal ini membuatnya sedikit tertutup dan emiliki pribadi yang individual. Salah satu tindakan emak yang juga dikategorikan prilaku agresi adalah membiarkan dirinya kelaparan selama tiga hari.
Tokoh ketiga dalam cerpen di atas yang akan dibahas adalah nyonya Maliana. Watak tokoh ini labil, pemarah, dan sekaligus pelaku agresi. Ia sering menggunakan kata-kata sarkasme untuk melampiaskan kemarahannya. Selain itu tindakan mendorong kepala pembantunya dengan kasar termasuk prilaku agresi eksternal.
"Hah!? Kau lupa menaruh tas kresek itu? Dasar tolol!"
"Kalau sampai tas kresek itu ditemukan orang dan terjadi apa-apa, kau harus bertanggungjawab!"
"Makanya, pakai otakmu!" Nyonya Maliana mendorong kepala pembantu yang tersedu itu kasar.
"Pembantu gila itu bikin gara-gara. Tas kresek hitam milik Papa waktu itu hilang. Coba, bagaimana kalau tas kresek itu ditemukan orang dan dimantra-mantra? Sekarang kan banyak orang yang memperebutkan jabatan Papa yang basah itu?"
E.1.3 Agresi
Tokoh yang melakukan tindak agresi dalam cerpen ini adalah preman pasar, emak, dan nyonya Maliana. Masing-masing memiliki ketidaksamaan dalam wujud dan cara.
Tokoh pertama adalah preman pasar. Ia melakukan agresi kepada Udin dengan cara menyodok dengan lengannya. Ketika Udin melamun datanglah seorang perempuan yang meminta dibawakan barang bawaannya, namun Udin masih asik dengan lamunannya. Melihat yang demikian, preman pasar menyodok Udin disertai dengan kata-kata kasar.
"Heh! Tuli kau!? Atau tak mau uang?"
Udin hampir terjatuh di sodok lengan preman pasar yang kekar itu.
Jika dilihat dari unsur-unsurnya, tindakan preman pasar sudah memenuhi syarat-syarat agresi. Pertama, dilihat dari niat, niat preman adalah memperingatkan dengan menyakiti Udin. Kedua, tindakan tersebut menyakiti objek. Ketiga, udin tidak menginginkan perlakuan preman tersebut.
Perilaku agresi yang dilakukan oleh preman dilatarbelakangi oleh perilaku yang tidak menyenangkan. Udin yang diminta membawakan barang bawaan malah melamun. Ia kemudian menyodok Udin agar mau membawakan barang bawaan tersebut.
Tindak agresi kedua dilakukan oleh emak. Agresi ini lebih bersifat internal yaitu dengan menyakiti dirinya sendiri. Emak sudah tiga hari tidak makan. Padahal setiap hari Udin membawa sebungkus nasi untuk mereka bertiga. Watak emak yang lebih mementingkan anak dengan menyiksa dirinya sendiri termsuk tindak agresi.
Perih dilambungnya sendiri tak diperdulikan. Perutnya dijerat tali setagen agar laparnya tak menjadi-jadi.
Perilaku agresi terakhir dilakukan oleh nyonya Maliana. Ia melakukan agresi eksternal dengan memaki dan mendorong kepala pembantunya. Bila ditinjau dari penyebabnya, prilaku Maliana ini merupakan reaksi dari perbuatan pembantunya yang menghilangkan daging tumor.
Nyonya Maliana blingsatan. Marah besar. Memaki-maki pembantunya. Kecantikan wajahnya yang selalu terurus salon seketika lenyap. Ia kehilangan!
"Hah!? Kau lupa menaruh tas kresek itu? Dasar tolol!"
Air mata pembantu muda itu meleleh. Ketika mampir ke pasar beberapa hari lalu, ia benar-benar lupa membawa tas kresek hitam itu turun dari angkutan. Apakah lupa itu sebuah dosa? Sia-sia ia mengatakan hal yang sejujurnya pada Nyonya Maliana. Sekarang ia memilih diam. Toh, apapun yang ia katakan, wanita itu akan terus memaki-makinya.
"Kalau sampai tas kresek itu ditemukan orang dan terjadi apa-apa, kau harus bertanggungjawab!"
"Tapi Nyonya, saya,"
"Makanya, pakai otakmu!" Nyonya Maliana mendorong kepala pembantu yang tersedu itu kasar.
Delut dalam Dayakisni (2001: 103) menyatakan bahwa bentuk prilaku agresi digambarkan dalam bentuk item-item dari factor analysis of behavioral checklist, yang terdiri dari 11 item. Kesebelas item tersebut adalah (1) menyerang secara fisik, (2) menyerang dengan kata-kata, (3) mencela orang lain, (4) menyerbu daerah orang lain, (5) mengancam melukai orang lain, (6) main perintah, (7) melanggar milik orang lain, (8) tidak mentaati perintah, (9) bersorak-sorak, berteriak, atau berbicara keras pada saat yang tidak tepat, dan (11) menyerang tingkah laku yang dibenci.
E.2 Wujud Pencitraan Sosial yang Diungkapkan oleh Adhyra dalam Cerpen Sang Buronan Ditinjau dari Prespektif Psikologis
E.2.1 Interaksi Sosial
Karjo menerima SMS dari orang asing yang mengabarkan ibunya yang berada di desa meninggal dunia. Keberadaannya sebagai target operasi Polisi membuatnya waspada. Ia tidak mau terjebak dalam perangkap Polisi yang telah lama mencarinya. Kemudian Karjo mengkonfirmasi kebenaran SMS tersebut pada sahabatnya di kampung (Mukhlis). Setelah mengetahui validitas SMS tersebut, Karjo berani mengambil keputusan untuk pulang menghadiri pemakaman ibunya.
Sejenak Karjo tercenung, mencoba menelusuri, siapa gerangan pengirim SMS itu? Setelah menemukan titik terang, ia tersenyum kecil. Lalu, ia mengontak Muklis; teman sepermainannya sejak kecil dulu - yang telah ia bantu secara materi - dan sekarang hidup cukup makmur di desa sebagai peternak kambing, menanyakan kebenaran berita itu. Setelah Muklis meyakinkan kebenaran berita itu, Karjo menghela napas lega.
Bentuk interaksi sosial yang terdapat dalam kutipan di atas adalah antara pengirim SMS dengan Karjo dan antara Karjo dengan Mukhlis. Motif yang melatar belakangi pengirim SMS adalah untuk mengabarkan kepada Karjo tentang kematian ibunya. Sedangkan tendensi Karjo mengkonfirmasi isi SMS yang diterima adalah agar dia tidak terjebak dalam perangkap Polisi.
Ketika Karjo menghubungi Mukhlis terdapat peristiwa sugesti. Mukhlis dipilih karena ia memiliki hutang budi pada karjo. Mukhlis telah diberikan modal untuk beternak kambing. Karjo hanya meminta agar Mukhlis menjaga ibunya. Sugesti yang dilakukan karjo dapat dikategorikan dalam sugesti otoritas. Kekuasaan Karjo atas Mukhlis menyebabkan dirinya bisa menyugesti Mukhlis untuk memberikan keterangan yang sebenarnya.
Bentuk interaksi sosial yang kedua adalah ketika Ustadz Kholil ingin mengetahui isi surat Karjo. Karjo yang ditembak mati oleh Polisi ternyata memiliki keinginan untuk bertaubat setelah ibunya meninggal. Namun niatannya ini gagal karena ajal telah datang menjemput. Ustadz Kholil yang mengetahui isi surat Karjo melakukan interaksi dengan masyarakat yang ada di sekitarnya.
"Apa isi surat itu, Pak?" tanya Ustadz Kolil yang tadi memimpin pemakaman ibunya Karjo.
Dengan suara cukup keras, polisi itu segera membacanya: "Selesai pemakaman Ibuku nanti, aku akan bertobat. Aku harus mengakhiri petualanganku sebagai perampok kelas kakap. Di sisa usiaku ini, aku ingin mengambil jalan yang lurus, jalan yang benar, dengan nyantri di Pondek Pesantrennya Ustadz Kolil."
Semua yang hadir di rumah Karjo itu, seketika terkesima. Mereka seakan kehabisan kata, tak tahu harus berkata apa. Tapi segera Ustadz Kolil memekik dengan suara lantang: "Allahu Akbar!"
Ustadz Kholil menyugesti penduduk kampung untuk menghargai perbuatan dan niat Karjo untuk bertaubat. Terjadi peristiwa sugesti kompleks yaitu (1) sugesti karena hambatan berfikir, (2) sugesti karena pikiran terpecah, dan (3) sugesti karena mayoritas.
Wujud sugesti yang pertama adalah perbuatan Karjo yang sangat buruk selama hidupnya bisa dimaafkan hanya dengan sebuah surat pernyataan ingin taubat. Masyarakat bisa menerima ini karena secara materi mereka tidak dirugikan oleh perbuatan Karjo dan mengenal Karjo sebagai pribadi yang sukses. Selain itu mereka bisa membaca niat tulus Karjo untuk bertaubat.
Sugesti karena pikiran terpecah dapat dibuktikan dengan pikian warga saat itu. Sedikitnya ada lima hal yang sedang mereka pikirkan, (1) rasa berkabung terhadap kematian ibunya Karjo, (2) rasa bangga terhadap Karjo yang telah menjadi orang sukses, (3) ketidakpercayaan terhadap perbuatan Karjo yang ternyata pelaku kejahatan, (4) rasa terkejut oleh kematian Karjo, dan (5) rasa haru terhadap surat yang ditulis oleh Karjo. Ketika rasa ini masih bercampur-baur, dan mendapat sugesti dari orang terkemuka (Ustadz Kholil) untuk bertakbir yang bermaksud menghargai niat baik Karjo.
Sugesti mayoritas dilakukan oleh penduduk kampung terhadap Polisi yang menangkap Karjo. Penduduk kampung telah seide menganggap perbuatan karjo bisa dimaafkan, sedangkan Polisi merasa dipojokkan oleh sugesti yang disampaikan oleh penduduk kampung. Sugesti ini lebih ke arah kejiwaan bukan dalam betuk fisik.
E.2.2 Sikap (Attitude)
Sikap yang akan dibahas pada sub bab berikut adalah tokoh-tokoh yang memiliki sikap menonjol. Jadi tidak semua tokoh yang akan dianalisis sikapnya. Tokoh-tokoh yang menjadi objek adalah Suryati dan Karjo.
Tokoh pertama yang akan dianalisis sikapnya adalah Suryati. Suryati memiliki sikap sombong dan merendahkan orang lain. Kata-katanya bernada sinis dan tidak mempercayai kesungguhan Karjo. Sebenarnya ada yang dicari oleh Suryati yang tidak terdapat pada diri Karjo, yaitu materi.
"Menikah?" tawa Suryati bernada menghina. "Mau jadi apa rumah tanggaku nanti kalau menikah dengan kamu yang penjudi, pemabuk dan pencuri?"
"Lantas kau akan kerja apa? Dan, aku serta anak-anakku kelak akan kau beri makan apa?" cibir Suryati.
"Maaf, semua itu baru angan-angan," potong Suryati. "Yang pasti, tak lama lagi aku
akan dilamar dan menikah dengan Pak Broto."
"Eit, jangan salah duga," ucap Suryati pula. "Aku sudah minta syarat pada Pak Broto, agar dia menceraikan semua istrinya dan dia setuju."
Wujud sikap Suryati di atas didasari oleh fungsi ekspresi dalam bersikap. Ia sadar bahwa dirinya adalah kembang desa setempat. Ia memiliki standart tertentu berkenaan dengan calon suaminya. Karjo dianggapnya tidak memenuhi standart yang diajukan. Perilaku Suryati ini termasuk memamerkan citra diri sebagai wujud dari eksistensinya sebagai kembang desa.
Karjo dalam cerpen Sang Buronan ini memiliki perilaku yang unik. Dikatakan demikian karena sikap Karjo selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Namun ada satu sikap yang khas pada diri Karjo yaitu rasa sayang pada ibunya. Berikut adalah kutipan yang menunjukkan sebengal apapun Karjo tetapi masih sayang pada perintah ibunya.
"Untuk membunuh Pak Broto, Bu!" "Ha?" mata ibu membelalak. "Kenapa hal itu kau lakukan, Nak?"
"Karena aku sangat benci kepada dia!" suara Karjo penuh dendam.
"Kenapa kamu membencinya? Apa salah Pak Broto?"
"Karena dia telah mengawini Suryati, gadis yang sangat aku cintai!"
Sang ibu mengelus dada. "Oalah Karjo, Karjo, hanya karena masalah sepele, masalah wanita, kau akan melenyapkan nyawa seseorang. Ingat Nak, eling, kita ini orang nggak punya, orang miskin. Kalau kau nekad membunuh Pak Broto, bukan hanya kau yang akan dimusuhi orang satu desa, tapi aku juga, Ibumu, yang melahirkan dan membesarkanmu. Apa kau tega melihat Ibu hidup lebih sengsara lagi?"
Karjo terdiam. Kata-kata ibunya yang terakhir telah menyentuh nuraninya. Melihat hal itu, sang ibu cepat berkata:
"Kau ini laki-laki, Jo. Jangan berpikiran cekak. Bila kau mau pergi merantau jauh dari desa kita ini, akan kau jumpai wanita-wanita yang jauh lebih cantik dari Suryati."
Karjo mengangguk-angguk. "Benar juga ya, Bu?"
Pembentukan sikap Karjo yang bengal bukan terjadi secara instan. Proses terjadinya memerlukan waktu yang relatif lama. Mengacu pada teori Bimo Walgito dalam Dayakisni (2001: 52-53) bahwa sesuatu yang menimpa Karjo berawal dari faktor internal dan berlanjut pada faktor eksternal. Faktor internal yaitu ketika pribadi Karjo menyaring informasi dari dunia luar terdapat miss perseption. Informasi yang masuk berupa data-data yang salah sehingga membentuk watak negatif. Berkenaan dengan faktor eksternal, keadaan perekonomian yang miskin ditambah perilaku apatis oleh masyarakat di sekelilingnya membuat Karjo menempuh jalan hidup yang merugikan dirinya sendiri.
E.2.3 Agresi
Hampir semua tokoh dalam cerpen ini melakukan tindak agresi. Akan tetapi penulis membatasi pembahasan pada beberapa tokoh antara lain Karjo, Suryati dan Polisi. Masing-masing memiliki ketidaksamaan dalam wujud dan cara. Karjo dalam melakukan agresi lebih sering dalam bentuk fisik. Mengacu pendapat Delut dalam Dayakisni (2001: 103) wujud prilaku agresi yang dilakukan oleh Karjo sedikitnya adalah menyerang secara fisik, melanggar milik orang lain, dan tidak mentaati perintah.
Karjo menyerang secara fisik dan melanggar milik orang lain dengan melakukan pencopetan serta perampokan bank. Tindakannya merupakan agresi yang diakibatkan keadaan ekonomi yang tidak mapan. Krahe dalam Hanurawan (2001: 54) menyebutkan tiga motif seseoang ketika melakukan agresi yaitu (1) sebagai reaksi terhadap peristiwa yang tidakmenyenangkan, (2) sebagai perilaku sosial yang dipelajari, dan (3) dimediasi oleh penilaian kognitif.
Karjo melakukan tindakan pencopetan dan perampokan sebagai akibat dari kehidupan sosialnya yang carut marut. Ketika ia di Jakarta tidak bisa mencari pekerjaan secara halal, ia memutuskan untuk melakukan pencopetan. Lama-kelamaan ia mahir dan ingin beralih profesi menjadi perampok. Peralihan ini dipelajari dari kehidupan sosialnya yang turut memberikan pengaruh terhadap cara berfikir menghadapi kehidupan.
Adapun bentuk agresi Karjo yang tidak mematuhi perintah dapat dilihat dari kutipan berikut.
Dan pada saat itulah, tiba-tiba datang beberapa orang polisi mengepung rumah Karjo. Karjo merasa kebebasannya terancam. Ia tak mau dijebloskan ke dalam sel tahanan. Maka, secara spontan Karjo mengeluarkan pistol miliknya dan menembakkannya beberapa kali ke atas, guna mengacaukan suasana, agar mudah baginya untuk meloloskan diri.
Tapi para polisi itu lebih sigap. Karjo ditembak tepat di dadanya. Karjo pun jatuh tersungkur dengan bersimbah darah.
Bentuk agresi yang dilakukan oleh Suryati adalah melalui media kata-kata serta mencela orang lain. Hal ini dilakukan karena rasa ketidaksukaannya pada Karjo yang ingin melamarnya.
"Menikah?" tawa Suryati bernada menghina. "Mau jadi apa rumah tanggaku nanti kalau menikah dengan kamu yang penjudi, pemabuk dan pencuri?"
Sesaat Karjo terdiam. Ditatapnya wajah ayu Suryati dengan penuh kekaguman.
"Ya, aku memang bejat, Ti," katanya kemudian sungguh-sungguh. "Tapi percayalah, semua itu akan aku tinggalkan kalau aku telah menikah denganmu."
Kembali Suryati tertawa sumbang.
"Lantas kau akan kerja apa? Dan, aku serta anak-anakku kelak akan kau beri makan apa?" cibir Suryati.
"Kerja apa saja, yang penting halal," sahut Karjo cepat. "Yang pasti, aku tak akan membuatmu sengsara."
"Maaf, semua itu baru angan-angan," potong Suryati. "Yang pasti, tak lama lagi aku akan dilamar dan menikah dengan Pak Broto."
"Kau akan menjadi istri yang ke berapa?" sela Karjo.
"Eit, jangan salah duga," ucap Suryati pula. "Aku sudah minta syarat pada Pak Broto, agar dia menceraikan semua istrinya dan dia setuju."
Semua perkataannya bernada sinis dan ditujukan kepada Karjo. Motif yang dilakukan Suryati adalah reaksi terhadap peristiwa yang tidak menyenangkan – dilamar Karjo--. Keteguhan hati Karjo dalam melamar membuat Suryati semakin frustasi. Kata-kata yang dikeluarkan semakin tidak sedap didengar oleh Karjo.
Secara teoritis frustasi yang dihadapi Suryati timbul karena pengaruh variabel perantara (Hanurawan, 2001 : 54). Variaberl perantara yang dimaksud adalah (1) ketakutan menjadi orang miskin, (2) dicap sebagai istri penjahat, dan (3) pandangan seseorang bahwa dirinya sebagai kembang desa akhirnya mendapatkan seorang penjahat sebagai suaminya.
E.3. Komparasi Tinjauan Psikologis Sosial terhadap Pencitraan yang Dilakukan oleh Sri Lestari dan Adhyra dalam Cerpen Masing-masing
Kondisi psikologis antar pengarang perempuan dan pengarang laki-laki tidak sama. Beberapa pakar psikologi menyebutkan bahwa segala tindakan perempuan didasari oleh insting dan perasaan. Adapun perilaku laki-laki pada umumnya berdasarkan rasio. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kaum perempuan lebih didominasi oleh otak kiri dalam bekerja. Sedangkan kaum laki-laki didominasi oleh otak kanan.
Pendapat di atas adalah pendapat klasik dan sudah mulai banyak ditinggalkan. Dalam studi gender oleh banyak ahli disebutkan dewasa ini peran laki-laki dan perempuan sudah mengalami persamaan. Pekerjaan yang sedianya dilakukan oleh kaum perempuan sudah biasa dilakukan oleh kaum laki-laki, misal : koki di restoran dan hotel, pekerja salon dan lain sebagainya. Begitu pula sebaliknya, banyak pekerjaan kaum laki-laki yang dikerjaka oleh perempuan.
E.3.1 Perasaan dengan Rasio
Dalam kedua cerita pendek di atas, kesamaan dan perbedaan berkenaan teori yang telah disebutkan dapat dianalisis oleh penulis. Terdapat kesinkronan antara teori dan begitu pula negasi. Sri Lestari dalam menuliskan karyanya terkadang melebih-lebihkan dalam hal konflik tokoh. Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini!
"Soto daging, Mak. Soto daging," (Karti)
"Karti harus dibawa ke dokter, Mak." (Udin)
"Kau belum tidur? Tidurlah, besok kau harus kerja." (Emak)
Dalam kutipan di atas dapat dilihat secara jelas bahwa aspek psikologis yang terdapat dalam cerpen hanya dapat dibaca secara implisit. Perasaan-perasaan yang dibangun pengarang untuk membangkitkan ceritanya dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan perasaan-perasaan dan sudut pandang keperempuanannya. Sri Lestari berhasil mentransfer perasaannya ke pembaca dengan media bahasa.
"Mak, aku membawakan daging untuk Karti. Mungkin sekilo lebih! Tanganku sampai pegal membawanya sambil lari-lari. Tadi sepulang dari pasar, aku menemukan daging ini di angkutan. Wah, kita bisa makan daging ini untuk beberapa hari, Mak! Bumbunya juga sudah kubelikan di warung! Cepatlah Mak masak. Kasihan Karti."
Tak ada kata yang keluar dari bibir perempuan itu. Ia terdiam. Gagu. Antara gembira, sedih dan haru. Setelah memerintah Udin menjaga Karti, perempuan itu bergegas ke belakang rumah. Tempat ia biasa memasak.
Dari kutipan di atas, Sri Lestari masih membolak-balikkan perasaan pembaca dengan konflik internal yang ada dala diri tokoh. Kemiskinan emak dan kerja keras Udin untuk mendapatkan daging adalah media yang dipergunakannya. Kondisi ini tidak terlepas dari rasa keindahan dan perasaan keperempuanannya.
Senjata yang digunakan oleh Lestari dalam menuliskan ceritanya adalah keindahan yang terdapat dalam pemilihan diksi dan kesan individu setelah membaca cerita. Kesan-kesan itu lebih bersifat perasaan simpati, antipati, emosi dan empati pembaca terhadap masing-masing tokoh.
Berbeda dengan Lestari, gaya penceritaan Adhyra lebih memaksa pembaca untuk merasionalkan peristiwa yang terdapat dalam cerpennya. Kata-kata dalam cerpennya bersifat lugas dan koheren. Adhyra mengajak pembaca untuk menarik cerpen itu ke alam sadar seseorang dan berupaya menghidupkan cerpen dengan mengkomparasikan kejadian yang ada di masyarakat.
Sejenak Karjo tercenung, mencoba menelusuri, siapa gerangan pengirim SMS itu? Setelah menemukan titik terang, ia tersenyum kecil. Lalu, ia mengontak Muklis; teman sepermainannya sejak kecil dulu - yang telah ia bantu secara materi - dan sekarang hidup cukup makmur di desa sebagai peternak kambing, menanyakan kebenaran berita itu. Setelah Muklis meyakinkan kebenaran berita itu, Karjo menghela napas lega.
Perhatikan pola pikir yang dibuat oleh Adhyra. Sebagai seorang laki-laki ia lebih menggunakan rasio dari perasaan. Ketika mendapat berita tentang kematian ibunya, Karjo tidak langsung bergegas pulang kampung. Ia menghubungi teman sebayanya dan mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut. Ia sadar posisinya sebagai buronan akan sedikit menjadi penghalang. Ia baru yakin bahwa berita yang diterimanya benar, ketika mendapat kepastian dari temannya berkenaan kesahihan SMS yang diterimanya.
Di Jakarta, tanpa keahlian khusus, mencari kerja ternyata tak semudah yang diduga. Maka mulailah Karjo menggelandang sana-sini, menjelajah seantero Jakarta. Sampai akhirnya ia mendapatkan titik temu: Untuk dapat bertahan hidup di Kota Metropolitan yang ganas dan kejam ini, aku harus menggunakan keahlianku di desa, mencuri; tapi harus dengan tipu daya, alias mencopet!
Mula-mula secara kecil-kecilan. Mencopet di pasar-pasar tradisional, di terminal-terminal dan di bis kota. Ketika sudah punya banyak teman yang seprofesi, Karjo berniat menjadi penjahat kelas kakap! Dan untuk melaksanakan rencana besar ini, ia pun mengatur strategi.
....
Ia tak mau dijebloskan ke dalam sel tahanan. Maka, secara spontan Karjo mengeluarkan pistol miliknya dan menembakkannya beberapa kali ke atas, guna mengacaukan suasana, agar mudah baginya untuk meloloskan diri.
Dalam kutipan di atas jelas sudah permasalahan antara perasaan dengan rasio. Adhyra membuktikan bahwa karyanya lebih menunjukkan eksistensinya sebagai seorang laki-laki dengan menggunakan pemiliran yang logis yang dituangkan dalam tokoh cerita. Akan tetapi Adhyra juga tidak berkompromi dengan unsur batin dalam ceritanya. Banyak kutipan yang menegaskan bahwa pengarang laki-laki juga bisa bermain perasaan sebagaimana pengarang perempuan. Namun yang perlu ditegaskan bahwa dominasi yang dilakuka Adhyra dalam cerpennya adalah dalam hal rasio.
E.3.2 Keindahan Bahasa dan Pengaruh Psikis yang Ditimbulkan
Sudah dijelaskan di atas bahwa perempuan lebih mengutamakan perasaan dan insting, sedangkan laki-laki lebih menekankan pada rasio dan pola pikir. Selain melalui peristiwa-peristiwa yang diungkapkan dalam cerpen masing-masing, ciri ini dapat dibaca melalui penggunaan dan pemilihan diksi.
Pemilihan diksi juga merupakan refleksi dari perasaan pengarang. Ketika seseorang sedang dalam keadaan terharu, ia akan menggunakan kata-kata yang bisa mewakili perasannya. Ketika seseorang merasa marah maka perkataan yang dikeluarkan adalah cerminan dari apa yang ada dalam pikirannya.
Sri Lestari dalam cerpennya Daging memiliki kecenderungan menggunakan pilihan kata yang indah dan "menusuk". Ini memberikan kekuatan dalam cerita dan lakon yang dibangun. Perasaannya sebagai seorang perempuan direfleksikan dengan penggunaan kata dalam cerita.
Langit malam buram. Menangis. Kilat menyambar. Mengantarkan gelegar petir membelah perkampungan kumuh di pinggir sungai. Rumah-rumah berdinding kardus dan papan bekas berjejalan. Sempit, sesak, lembab. Daun-daun pintu bergoyang. Berderak. Seolah ada tangan hantu mempermainkan pintu-pintu itu dari luar. Angin kencang menghempas, hujan deras. Sungai meluap. Menghamburkan air kotor penuh limbah pabrik, kotoran manusia dan sampah. Barangkali kiamat akan mendatangi perkampungan kumuh itu malam ini.
Dari kutipan di atas dapat diapresiasi bahwa pribadi penulis adalah seseorang yang peka terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sosial. Lagi-lagi unsur perasaan lah yang membuat seseorang mampu membuat rangkaian kata-kata yang indah dan "menusuk".
Berbeda dengan Lestari, Adhyra terbukti bisa mengajak pembaca memahami isi cerita yang dibuat walaupun menggunakan bahasa yang sedikit lugas. Bila dibandingkan dengan Lestari, kata-kata yang digunakan oleh Adhyra lebih mencerminkan dirinya sebagai seorang laki-laki. Ia ingin menghadirkan dirinya dalam tokoh dan peristiwa di cerita yang ia buat. Dengan kata lain cerita yang dibuatnya adalah refleksi dari kondisi jiwanya dalam melihat sesuatu.
Karjo tumbuh dalam keluarga broken home. Bapaknya jatuh hati pada pelacur, lalu pergi bersama pelacur itu - entah ke mana - meninggalkan ibunya begitu saja. Sang ibu adalah prototipe orang desa yang miskin dan tak punya ketrampilan apa pun. Maka untuk biaya hidup sehari-hari, ibunya bekerja sebagai buruh tani, bersama beberapa orang tetangganya menggarap sawah milik Pak Broto, sang tuan tanah. Dan, karena gaji buruh tani yang kecil - di samping ibunya, wanita tak sanggup bersaing dengan para buruh tani laki-laki dalam kerja borongan itu - terpaksa sekolah Karjo putus di tengah jalan. Sejak saat itulah Karjo mulai jadi anak brandalan. Setiap hari kerjanya hanya keluyuran tak tentu tujuan, sampai akhirnya ia mulai mengenal judi, minuman keras dan perempuan. Bila tak punya uang untuk memenuhi kebutuhan buruknya itu, Karjo mulai berani mencuri kecil-kecilan. Dan, sejak saat itu pula Karjo mulai dibenci dan dikucilkan oleh penduduk desanya.
F. Penutup
Demikian telah dipaparkan di atas Studi Komparasi Cerita Pendek Angkatan 2000 berdasarkan Prespektif Sosiopsikologis. Penulis berharap dari tulisan ini pembaca dapat mengambil suatu pelajaran dan mampu mengembangkannya. Pembahasan di atas belum mengkaji semua aspek sosial dalam prespektif psikologis. Keterbatasan waktu penulis menjadi sebab kurang sempurnanya tulisan ini.
Bibliografi
Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo Offset.
Dayakisni, Tri. et.al. 2001. Psikologi Sosial (Buku 1). Malang: UMM Press.
Hanurawan, Fattah. 2001. Dasar-dasar Psikologi Sosial. Malang: Triutara Press(ca).
Langganan:
Postingan (Atom)